George Weah: "Rasisme Adalah Penyakit", Tegaskan Komitmen FIFA Lawan Diskriminasi

Gbonk Anaqy Setyawan, Sportlink News
- Senin, 10 November 2025 | 18:57 WIB
Legenda sepak bola dunia, George Weah (Liberia) bersama Presiden FIFA Gianni Infantino usai Panel Suara Pemain untuk Kampanye Anti Rasisme di sepak bola, di Rabat, 10 November waktu setempat. (FIFA)
Legenda sepak bola dunia, George Weah (Liberia) bersama Presiden FIFA Gianni Infantino usai Panel Suara Pemain untuk Kampanye Anti Rasisme di sepak bola, di Rabat, 10 November waktu setempat. (FIFA)

SportlinkNews - Legenda sepak bola dunia sekaligus mantan Presiden Liberia, George Weah menegaskan komitmennya untuk memerangi rasisme dalam sepak bola.

Ia pun memimpin Kampanye FIFA untuk melakukan pemberantasan rasisme di sepak bola.  

George Weah mengatakan bahwa rasisme sebagai "penyakit" yang tidak boleh dibiarkan berkembang di ruang publik, terutama di lapangan hijau.

Weah memimpin Panel Suara Pemain (PVP) yang beranggotakan 16 legenda sepak bola pria dan wanita yang menjadi bagian dari Kampanye Global FIFA Melawan Rasisme. 

Baca Juga: Indonesia U-17 Wajib Menang Besar untuk Jaga Asa Lolos, Nova Tekankan Permainan Agresif

Pertemuan fisik pertama panel ini digelar di Rabat, Maroko, Senin, 8 November waktu setempat, yang dihadiri langsung oleh Presiden FIFA Gianni Infantino, Sekjen Mattias Grafström, serta jajaran pejabat tinggi FIFA.

"Rasisme adalah penyakit. Kita tidak boleh membiarkannya ada di ruang publik, apalagi di lapangan tempat semua orang bekerja sama dan bersenang-senang," tegas Weah.

"Kita harus menikmati permainan ini bersama. Melupakan panggilan nama buruk, saling menerima, dan berteman, karena itulah esensi sepak bola."

Weah yang juga pernah memperkuat AS Monaco, PSG, dan AC Milan ini ditunjuk sebagai kapten kehormatan PVP.

Baca Juga: Kesulitan di Juventus, Jonathan David Justru Dinobatkan Pemain Terbaik CONCACAF 2025

Dalam sambutannya, ia berterima kasih kepada FIFA yang mempercayainya menjadi bagian dari upaya global menghapus diskriminasi di sepak bola.

PVP sendiri dibentuk pada Mei 2024 sebagai salah satu dari lima pilar Global Stand Against Racism, yang telah disetujui oleh 211 asosiasi anggota FIFA. 

Misi panel ini meliputi pemantauan strategi anti-rasisme, partisipasi dalam edukasi pemain muda, serta pemberian masukan terhadap kebijakan dan reformasi sepak bola internasional.

Baca Juga: Imbang Lawan Tottenham, Ruben Amorim Sebut Manchester United Belum Stabil

Dalam workshop dua hari itu, para anggota panel, termasuk Mercy Akide (Nigeria), Iván Córdoba (Kolombia), Lotta Schelin (Swedia), dan Mikael Silvestre (Prancis) membahas praktik terbaik dari federasi sepak bola Inggris dan Jerman.

Mereka juga menerima pembaruan mengenai implementasi lima pilar aksi FIFA.

Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan pentingnya tindakan nyata dalam melawan diskriminasi di dunia sepak bola.

"Kita sudah cukup banyak berbicara, sekarang saatnya bertindak. Hanya dengan bekerja bersama kita bisa menang," ujarnya.

Baca Juga: Media Italia Memuji Aksi Keren Kapten Timnas Indonesia Jay Idzes di Serie A

Selain membahas kebijakan dan rencana kerja hingga 2027, PVP juga meninjau pelaksanaan kegiatan edukatif di berbagai turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia U-17 dan U-20. Weah pun menutup sesi ini dengan pesan perdamaian.

"Sepak bola adalah cinta, perdamaian, dan kesenangan. Kita harus memastikan bahwa rasisme diusir dari olahraga ini, karena hanya dengan kebersamaan, kita bisa menang."

Editor: Gbonk Anaqy Setyawan

Sumber: FIFA

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pemain LALIGA Dominasi Final Piala Dunia 2026

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:37 WIB
X