SportlinkNews - Tekanan publik agar Gabriele Gravina menanggalkan jabatannya sebagai Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) kini mencapai titik kulminasi. Gelombang desakan mundur tersebut menguat tajam setelah Timnas Italia dipastikan kembali gagal melangkah ke putaran final Piala Dunia 2026.
Kegagalan tragis ini dipastikan setelah Gli Azzurri ditundukkan oleh Bosnia dan Herzegovina dalam laga final play-off zona Eropa yang berlangsung di Zenica, Rabu (1/4) dini hari WIB. Meski sempat unggul lebih dulu melalui gol Moise Kean, Italia akhirnya menyerah dalam drama adu penalti setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit.
Hasil memilukan ini mencatatkan sejarah kelam bagi sepak bola Italia yang harus absen dalam tiga edisi Piala Dunia secara beruntun, mulai dari 2018, 2022, hingga 2026. Secara khusus, ini merupakan kegagalan kedua yang terjadi di bawah masa kepemimpinan pria berusia 72 tahun tersebut.
Baca Juga: Daftar Lengkap 48 Negara Peserta dan Pembagian Grup Piala Dunia 2026
Kekalahan di babak play-off seolah menjadi dejavu bagi publik Italia yang sebelumnya juga gagal meraih tiket lolos langsung ke putaran final. Akibat catatan merah yang terus berulang, posisi Gravina sebagai orang nomor satu di federasi kini menjadi sorotan utama dan menuai kritik keras.
Kendati desakan untuk mundur terus mengalir deras dari berbagai elemen, Gravina memilih untuk tidak langsung mengambil keputusan personal secara prematur. Ia menegaskan segala bentuk pertanggungjawaban dan evaluasi akan dilakukan melalui mekanisme organisasi yang resmi di Dewan Federal.
"Ada yang namanya Dewan Federal, saya sudah memutuskan untuk mengadakan rapat pekan depan, dan saat itulah akan ada evaluasi. Saya mengerti bahwa orang-orang akan menuntut pengunduran diri saya, tetapi ini adalah situasi yang tepat untuk melakukannya," ujar Gravina dikutip dari Football Italia.
Baca Juga: Dari Tanah Meksiko, Irak Melenggang Kembali ke Piala Dunia 2026
Gravina menekankan bahwa langkah selanjutnya memerlukan pertimbangan yang sangat matang di tingkat struktural federasi. Ia mengisyaratkan bahwa pertanyaan mengenai masa depannya memerlukan wadah formal untuk dijawab secara komprehensif oleh seluruh anggota dewan.
"Pekan depan kami akan merenungkan situasi ini lebih dalam, karena pertanyaan yang Anda ajukan membutuhkan tempat yang tepat untuk menjawabnya. FIGC harus memutuskan bagaimana memilih dan membangun timnya. Kami hanya bisa melakukan apa yang kami miliki di liga ini," ucapnya.
Pernyataan Gravina tersebut juga menyiratkan tantangan yang dihadapi federasi dalam membangun kekuatan tim nasional dari sumber daya pemain di kompetisi domestik. Hal ini menjadi bagian dari refleksi mendalam yang akan dibahas dalam pertemuan resmi pekan depan.
Baca Juga: Persija Terus Asah Kekuatan Tim, Alaaeddine Ajaraie Mulai Pulih dari Cedera
Catatan sejarah menunjukkan kemerosotan tajam prestasi sepak bola Italia di panggung dunia dalam satu dekade terakhir. Italia terakhir kali mencicipi atmosfer putaran final Piala Dunia pada tahun 2014, itu pun tanpa prestasi yang mencolok di fase grup.
Bahkan, kali terakhir mereka mampu menembus fase gugur terjadi pada tahun 2006 silam. Kala itu, Italia sukses keluar sebagai juara dunia untuk keempat kalinya setelah mengalahkan Prancis di partai final yang legendaris.
Artikel Terkait
Carlo Ancelotti Yakin 100 Persen Gattuso Bawa Italia ke Piala Dunia 2026
Strategi Parkir Bus Bosnia, Rencana Pragmatis Sergej Barbarez Meredam Italia
Italia Gagal Lagi ke Piala Dunia Usai Dihancurkan Bosnia
Italia Kandas Ditangan Bosnia, Ini Reaksi Gattuso
Gattuso Berlinang Air Mata saat Italia Tersingkir di Playoff Piala Dunia 2026