Presiden Gedung Putih memperingatkan tim tersebut "kemungkinan besar akan dibunuh" jika mereka diizinkan kembali ke Iran.
Ghanbari dan enam rekan setimnya awalnya menerima visa kemanusiaan, tetapi kemudian membatalkannya beberapa hari kemudian.
Hal ini dilaporkan disebabkan oleh ancaman yang ditujukan kepada keluarga para pemain di Iran, yang memaksa mereka untuk kembali.
Baca Juga: Manchester United 1-2 Leeds: Jambak Rambut, Carrick Marah atas Kartu Merah Martinez
Empat rekan setim lainnya juga telah kembali ke Iran, sehingga hanya tersisa dua orang di Australia.
Kembalinya Ghanbari ke Iran digambarkan di media sebagai tindakan patriotisme, sementara pihak berwenang menjamin bahwa ia tidak akan menerima hukuman apa pun.
Media pemerintah IRNA menulis bahwa Ghanbari "kembali ke pelukan tanah air", sementara kantor berita Mehr menyebutnya sebagai "keputusan patriotik".
Baca Juga: Dominasi Uang Spanyol dan Italia Lindungi Karier Alex Rins
Namun, penyitaan asetnya merupakan penyimpangan yang mengkhawatirkan dari janji ini.
Penyitaan aset akan mencakup pengurasan rekening banknya serta penyitaan harta benda bergerak dan tidak bergerak.
Tokoh-tokoh terkemuka lainnya yang kemungkinan akan menerima perlakuan serupa adalah aktor Hamid Farokhnezhad, penyanyi Ashkan Khatibi dan Mazyar Fallahi, serta presenter TV Parastoo Salehi.
Yuk, gabung di channel whatsapp sportlinknews.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru. Klik di sini (JOIN)
Artikel Terkait
Perayaan Ganda Mancini untuk Al Sadd
Fiorentina 1-0 Lazio: Gosens Mungkin Menjamin Keselamatan Viola
18 Pemain Atletico Madrid, Barcelona, Real Madrid Berisiko Absen di Semifinal Liga Champions
Atletico Madrid Vs Barcelona: Yamal Berharap Comeback Keajaiban Terulang
Prediksi Liverpool Vs PSG: Anfield Dituntut Menjadi Tuan Rumah Pembalikan Peristiwa Terkenal di Liga Champions