Tiga Kali Beruntun Absen di Piala Dunia, Buffon Bedah Borok Kegagalan Italia

Muhammad Ridwan, Sportlink News
- Kamis, 23 April 2026 | 20:29 WIB
Gianluigi Buffon mendukung Juventus datangkan Thiago Motta sebagai pengganti Max Allegri. (football italia)
Gianluigi Buffon mendukung Juventus datangkan Thiago Motta sebagai pengganti Max Allegri. (football italia)

SportlinkNews - Penjaga gawang legendaris Italia, Gianluigi Buffon, secara terbuka membedah faktor utama di balik kegagalan tragis negaranya menembus putaran final Piala Dunia 2026. Mantan kapten tersebut menyoroti hilangnya sosok pemain kreatif atau fantasista sebagai salah satu lubang besar dalam kekuatan sepak bola Italia saat ini.

Langkah Italia dipastikan terhenti untuk ketiga kalinya secara berturut-turut setelah menelan kekalahan pahit dari Bosnia dan Herzegovina pada final play-off akhir Maret lalu. Hasil negatif ini memaksa pemilik empat bintang juara dunia tersebut kembali terkubur dalam duka kegagalan yang serupa secara beruntun.

Ironi menyelimuti kegagalan kali ini mengingat Piala Dunia 2026 sebenarnya sudah melakukan ekspansi peserta hingga mencapai 48 tim. Ketidakmampuan Gli Azzurri memanfaatkan peluang dalam format baru tersebut memicu gelombang kritik tajam dari berbagai elemen sepak bola internasional.

Baca Juga: Bali United Kehilangan Boris Kopitovic di Laga Kontra Persita

Kritik utama banyak diarahkan pada kebijakan klub dan federasi yang dianggap minim memberikan kepercayaan terhadap talenta pemain muda untuk berkembang. Struktur kompetisi usia dini serta kondisi infrastruktur yang dinilai sudah ketinggalan zaman juga disebut sebagai penghambat kemajuan sepak bola nasional.

Namun, Buffon memiliki perspektif yang lebih mendalam mengenai aspek teknis yang menghilang dari gaya bermain khas tim nasional mereka. Ia meyakini ketiadaan sosok ajaib yang mampu mengubah jalannya pertandingan melalui teknik individu menjadi masalah yang sangat fundamental.

Dalam diskursus sepak bola, istilah fantasista merujuk pada peran pemain yang memiliki kreativitas luar biasa di atas rata-rata pemain pada umumnya. Meskipun sering diidentikkan dengan posisi gelandang serang, peran ini lebih menitikberatkan pada visi bermain dan sentuhan yang tidak terduga.

Baca Juga: Persis Solo Bungkam Bhayangkara FC, Althaf Indie: Persis Harus Bisa Bertahan di Super League

Sosok pemain seperti ini biasanya menjadi pusat permainan yang mampu memecah kebuntuan melalui umpan visioner maupun aksi individu yang memukau. Buffon percaya bahwa hilangnya elemen kreativitas murni tersebut telah melukai daya saing Italia di level kompetisi tertinggi dunia.

Legenda Juventus tersebut mengawali analisisnya dengan meninjau perkembangan peta kekuatan sepak bola secara global yang kini semakin merata. "Alasan pertama adalah globalisasi, yang memungkinkan semua tim menjadi sangat kompetitif dan level rata-rata permainan telah banyak meningkat," kata Buffon dikutip dari Football Italia .

Faktor kedua yang disoroti adalah memudarnya keunggulan taktik yang selama ini menjadi identitas sekaligus kekuatan utama tim nasional Italia. Buffon merasa dominasi taktis yang dahulu menjadi senjata ampuh Gli Azzurri kini sudah mulai terkejar oleh negara-negara lain.

Baca Juga: Persebaya Bidik Poin di Kandang Malut United, Bernardo Tavares: Jangan Ulangi Kesalahan yang Sama

"Kedua, sampai 15 tahun lalu ketika kami biasa menang, kami secara taktik lebih kuat dari para lawan," jelas sosok yang membawa Italia juara dunia tahun 2006 tersebut.

Poin terakhir sekaligus yang paling krusial bagi Buffon adalah ketiadaan penerus bagi para maestro sepak bola Italia di masa lalu. Ia merindukan kehadiran pemain yang memiliki magis individu untuk menentukan hasil akhir pertandingan melalui talenta luar biasa yang mereka miliki.

Halaman:

Editor: Muhammad Ridwan

Sumber: Football Italia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pemain LALIGA Dominasi Final Piala Dunia 2026

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:37 WIB
X