SportlinkNews - Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) secara resmi menyetujui perubahan regulasi disiplin yang akan diberlakukan pada putaran final Piala Dunia 2026 mendatang. Kebijakan baru ini memungkinkan wasit memberikan kartu merah kepada pemain yang kedapatan menutupi mulut mereka saat terlibat konfrontasi dengan pemain lawan.
Langkah tegas ini diambil menyusul insiden yang melibatkan pemain sayap Benfica, Gianluca Prestianni, saat berselisih dengan Vinicius Junior pada laga Liga Champions Februari lalu. Prestianni diketahui menutupi mulut menggunakan bajunya selama ketegangan berlangsung guna menyembunyikan kata-kata yang diucapkannya kepada lawan.
Perselisihan antara kedua pemain tersebut memicu kericuhan yang menyebabkan pertandingan terhenti selama 10 menit sebelum akhirnya dapat dilanjutkan kembali. Prestianni yang tetap berada di lapangan hingga laga usai kemudian dijatuhi sanksi berat berupa larangan bermain dalam enam pertandingan.
Baca Juga: Antisipasi Dewa United Menghadapi Strategi Persijap Jepara di Laga Pekan ke-30 Super League
Berdasarkan aturan terbaru yang disahkan oleh badan independen pengatur hukum permainan, tindakan serupa di masa depan akan langsung diganjar pengusiran dari lapangan. FIFA memberikan kewenangan penuh kepada penyelenggara kompetisi untuk menerapkan sanksi kartu merah terhadap gestur yang dianggap mencederai sportivitas tersebut.
"Atas kebijakan penyelenggara kompetisi, pemain mana pun yang menutupi mulutnya dalam situasi konfrontasi dengan lawan dapat dikenai sanksi kartu merah," demikian pernyataan FIFA.
Selain masalah penutupan mulut, IFAB juga mengesahkan amandemen terkait aksi protes yang melibatkan pengosongan lapangan oleh tim atau ofisial. Wasit kini memiliki otoritas untuk mengusir siapa pun yang meninggalkan area permainan sebagai bentuk keberatan terhadap keputusan pengadil pertandingan.
Baca Juga: Madura United FC Bertekad Menang di Padang Demi Lepas dari Zona Merah Super League
Aturan ini dirancang untuk merespons aksi pelatih Senegal, Pape Thiaw, yang memerintahkan skuadnya keluar lapangan pada final Piala Afrika Januari lalu saat melawan Maroko. Federasi internasional menilai tindakan provokasi tersebut sangat merugikan jalannya pertandingan dan harus dicegah melalui payung hukum yang lebih kuat.
Hukum baru ini bertujuan untuk meminimalisir penundaan durasi laga yang sering kali disebabkan oleh tindakan emosional dari bangku cadangan maupun pemain. Pelatih maupun pemain yang menghasut rekan setimnya untuk berhenti bertanding kini terancam hukuman kartu merah secara instan.
Pihak otoritas sepak bola menekankan bahwa konsekuensi dari aksi meninggalkan lapangan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada status hasil pertandingan. Tim yang melakukan aksi mogok main tersebut akan dinyatakan kalah secara walk out (WO) oleh otoritas penyelenggara.
Baca Juga: Taklukkan Persik Kediri Jadi Momentum Borneo FC Rebut Pimpinan Klasemen Super League
"Sekarang, para pemain akan dianggap telah dikeluarkan. Dan juga, mereka yang menghasut pemain untuk meninggalkan lapangan akan dianggap telah dikeluarkan, dan tim yang meninggalkan lapangan akan kalah."
Implementasi aturan ini dipastikan akan menjadi tantangan baru bagi tim-tim nasional yang berlaga di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. FIFA berkomitmen untuk memberikan sosialisasi mendalam agar setiap federasi memahami batasan perilaku yang diizinkan selama turnamen berlangsung.
Artikel Terkait
Bagaimana Reaksi Iran Digantikan Italia di Piala Dunia 2026?
Brasil Menghadapi Kejutan Lain Jelang Piala Dunia 2026
Cedera ACL, Xavi Simons Gagal Bela Belanda di Piala Dunia 2026
FIFA Bakal Naikkan Uang Hadiah Piala Dunia 2026
FIFA Mengubah Aturan Kartu Kuning untuk Piala Dunia 2026