SportlinkNews - Federasi Sepak Bola Republik Islam Iran (FFIRI) secara resmi menyatakan kesiapan tim nasional mereka untuk berlaga di Piala Dunia 2026. Kendati demikian, mereka mengajukan tuntutan tegas agar seluruh delegasinya mendapatkan perlakuan yang setara tanpa diskriminasi birokrasi.
Iran dijadwalkan bersaing di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru. Seluruh rangkaian pertandingan di grup tersebut akan dipusatkan di wilayah Amerika Serikat yang saat ini memiliki hubungan diplomatik cukup kompleks dengan Iran.
Meskipun tensi politik sempat memanas, FIFA berperan aktif dalam menjembatani komunikasi antara kedua belah pihak demi kelancaran turnamen. Komitmen untuk memisahkan urusan olahraga dari dinamika geopolitik menjadi kunci utama agar jadwal pertandingan tetap berjalan sesuai rencana semula.
Baca Juga: Jorge Martin Kuasai GP Prancis, Aprilia Menang Banyak di Le Mans
Presiden FFIRI, Mehdi Taj, memberikan penekanan khusus terkait proses penerbitan visa bagi para pemain dan ofisial tim tanpa terkecuali. Ia menegaskan bahwa latar belakang wajib militer di masa lalu tidak boleh dijadikan alasan untuk menghalangi partisipasi anggota tim di ajang dunia.
Kekhawatiran ini muncul menyusul pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengenai prosedur seleksi ketat bagi rombongan dari Iran. Kebijakan tersebut bertujuan menyaring individu yang memiliki keterkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang dilarang oleh otoritas setempat.
"Seluruh pemain dan staf teknis, terutama mereka yang pernah menjalani wajib militer di Korps Garda Revolusi Islam, harus mendapatkan visa tanpa masalah," kata Mehdi Taj, dikutip dari ISNA.
Baca Juga: Kobbie Mainoo Catat 100 Penampilan Bersama Manchester United
Isu mengenai pembatasan masuknya pejabat Iran sempat memuncak setelah Mehdi Taj sendiri dilarang masuk ke Kanada untuk menghadiri Kongres Tahunan FIFA. Otoritas Kanada saat itu menduga adanya keterkaitan struktural sang presiden federasi dengan organisasi yang mereka tetapkan sebagai kelompok terlarang.
Salah satu pemain bintang yang berisiko terkena dampak dari kebijakan ketat ini adalah penyerang andalan Team Melli, Mehdi Taremi. Pemain berusia 33 tahun tersebut diketahui pernah menjalankan kewajiban bela negara di bawah struktur komando IRGC pada masa mudanya.
Selain masalah perizinan masuk, FFIRI juga menuntut adanya jaminan keamanan yang komprehensif bagi seluruh anggota tim selama berada di Amerika Utara. Pihak federasi merasa perlu mendapatkan kepastian menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang sempat menyinggung kekhawatiran aspek keamanan bagi tim tamu.
Baca Juga: Imbangi Liverpool, Calum McFarlane Akui Tekanan Bermain di Anfield Sangat Sulit
Identitas nasional juga menjadi poin penting yang tidak bisa ditawar oleh pihak Iran dalam negosiasi bersama FIFA sebagai penyelenggara. Mereka meminta jaminan agar simbol-simbol negara seperti bendera dan lagu kebangsaan dapat berkibar dan berkumandang tanpa gangguan sedikit pun.
"Republik Islam akan berpartisipasi tanpa mundur dari keyakinan, budaya, dan pendiriannya," ujarnya.
Artikel Terkait
Kejar Pulih demi Piala Dunia 2026, Winger Chelsea Estevao Jalani Rehabilitasi di Palmeiras
FIFA Sahkan Permintaan UEFA, Prestianni Terancam Tak Dibawa ke Piala Dunia 2026
Katy Perry hingga Lisa Blackpink Siap Guncang Panggung Pembukaan Piala Dunia 2026
Lionel Messi Berharap Neymar Dibawa Brasil di Piala Dunia 2026
Jose Mourinho Prediksi Portugal Juara Piala Dunia 2026