Tantangan yang dihadapi Queiroz tidak ringan. Ia hanya memiliki waktu singkat untuk membentuk identitas permainan baru sekaligus memperbaiki masalah pertahanan yang menjadi titik lemah Ghana dalam beberapa pertandingan terakhir.
Kekalahan telak 1-5 dari Austria pada Maret lalu menjadi alarm serius yang harus segera dibenahi.
Secara taktik, Ghana diperkirakan akan menggunakan formasi 4-2-3-1 dengan pendekatan yang lebih pragmatis.
Gaya tersebut sejalan dengan karakter Queiroz yang dikenal mengutamakan organisasi permainan dan disiplin bertahan sebelum mencari peluang melalui serangan balik cepat.
Baca Juga: Istri Lionel Messi, Antonela Roccuzzo Tampil Berani dalam Balutan Bikini Mungil
Sayangnya, absennya Mohammed Kudus menjadi kehilangan besar bagi Black Stars. Kreativitas dan kemampuan individu pemain tersebut sebenarnya sangat cocok dengan skema serangan balik yang menjadi ciri khas tim-tim asuhan Queiroz.
Di Piala Dunia 2026, Ghana tergabung di Grup L bersama Inggris, Kroasia, dan Panama. Di atas kertas, Inggris dan Kroasia menjadi favorit untuk lolos ke babak berikutnya. Namun Ghana bukan tim yang bisa dipandang sebelah mata.
Pengalaman mereka di turnamen besar, kekuatan fisik khas sepak bola Afrika, serta kehadiran sejumlah pemain yang berkompetisi di liga elite Eropa membuat Black Stars tetap memiliki peluang menciptakan kejutan.
Laga pembuka melawan Panama diperkirakan menjadi pertandingan paling menentukan.
Baca Juga: Shakira Cetak Sejarah Piala Dunia Lewat Lagu Dai Dai
Kemenangan akan membuka peluang Ghana untuk bersaing memperebutkan tiket ke fase gugur. Sebaliknya, hasil negatif bisa membuat tekanan semakin besar saat menghadapi Inggris dan Kroasia.
Meski saat ini tidak lagi diperkuat generasi emas seperti 2010, Ghana tetap membawa semangat yang sama ke Piala Dunia 2026.
Mereka datang dengan tekad membuktikan bahwa Black Stars masih mampu bersinar di panggung dunia dan menghidupkan kembali mimpi besar yang sempat terhenti secara tragis di Afrika Selatan 16 tahun silam.
Gaya Bermain Ghana
Di bawah kepemimpinan Carlos Queiroz, Ghana mengembangkan gaya bermain yang memadukan kekuatan fisik dan kecepatan khas sepak bola Afrika dengan disiplin taktis yang identik dengan sepak bola Eropa.
Baca Juga: Marc Marquez Kasih Peringatan Keras Lewat Kemenangan Mutlak di GP Hungaria
Pelatih asal Portugal tersebut membangun Black Stars sebagai tim yang terorganisasi, tetapi tetap mampu memainkan sepak bola agresif dan dinamis.
Formasi 4-2-3-1 maupun 4-3-3 menjadi pilihan utama, dengan penekanan pada mobilitas tinggi serta kemampuan beradaptasi sesuai situasi pertandingan.
Salah satu kekuatan terbesar Ghana terletak pada transisi permainan yang sangat cepat.
Begitu berhasil merebut bola di lini tengah, para pemain langsung mengalirkannya ke depan untuk memanfaatkan kecepatan pemain sayap dan penyerang mereka.
Baca Juga: Sapu Bersih FIFA Matchday, Herdman Puji Mentalitas Baja Timnas Indonesia
Pola ini membuat Black Stars menjadi tim yang sangat berbahaya dalam situasi serangan balik.
Di lini tengah, Ghana mengandalkan gelandang-gelandang yang kuat secara fisik sekaligus memiliki kemampuan teknis yang baik. Mereka berperan sebagai pelindung lini pertahanan sekaligus penghubung utama dalam membangun serangan. K
eseimbangan antara kemampuan bertahan dan distribusi bola membuat sektor tengah menjadi salah satu fondasi permainan Ghana.
Saat menyerang, Black Stars tidak hanya mengandalkan kecepatan, tetapi juga variasi dalam membongkar pertahanan lawan.
Baca Juga: WorldSBK Kembali ke Sirkuit Misano, Brembo Paparkan Data Pengereman yang Fantastis
Artikel Terkait
FIFA Mencabut Tiket Suporter Iran di Piala Dunia 2026
Shakira Cetak Sejarah Piala Dunia Lewat Lagu Dai Dai
Apa yang Membuat Lapangan di Stadion Piala Dunia 2026 Istimewa?
Piala Dunia 2026: Protes Besar-besaran Menjelang Pertandingan Pembukaan Meksiko
Sepatu yang Akan Dipamerkan Pemain Bintang di Piala Dunia 2026