SportlinkNews - Dua pengadil lapangan asal Inggris, Michael Oliver dan Anthony Taylor, dipastikan tak bisa memimpin jalannya pertandingan final Piala Dunia 2026. Laga puncak turnamen sepak bola terbesar jagat raya tersebut dijadwalkan berlangsung di New York, Amerika Serikat, pada 19 Juli mendatang.
Keputusan pencoretan kedua wasit ini merupakan imbas langsung dari hasil pertandingan babak perempat final. Inggris dan Argentina diketahui sama-sama sukses mengamankan tiket semifinal turnamen.
Skuad Tiga Singa sukses menembus babak empat besar setelah menumbangkan perlawanan ketat Norwegia dengan skor tipis 2-1 melalui babak tambahan. Pada laga lainnya, Argentina juga memeras keringat hingga babak perpanjangan waktu untuk menekuk Swiss 3-1.
Baca Juga: Hatsune Miku Sulap Papan Catur Jadi Lebih Artistik Lewat Enam Figur Ikonik
Keberadaan dua negara yang memiliki rivalitas sejarah panjang ini di babak krusial otomatis menutup ruang bagi keterlibatan wasit asal Inggris. Manajemen FIFA langsung menonaktifkan sisa penugasan Oliver dan Taylor demi menjaga asas netralitas turnamen.
Berdasarkan regulasi resmi, FIFA melarang keras seorang wasit memimpin laga yang melibatkan negaranya sendiri. Aturan ini mutlak berlaku demi menghindari konflik kepentingan jika Inggris lolos ke final atau bersua Argentina.
Pembatasan tugas tersebut juga meluas ke pertandingan lain yang berdampak langsung pada peta persaingan negara asal wasit di fase berikutnya. Atas dasar itulah, Oliver maupun Taylor tidak diizinkan mengawal duel semifinal antara Prancis melawan Spanyol.
Baca Juga: Misteri Semifinal Impian, Inggris, Argentina, Prancis, dan Spanyol: Mahakarya FIFA
Skenario geopolitik sepak bola bahkan tetap memblokir peluang mereka memimpin laga puncak sekalipun langkah Inggris dihentikan oleh Argentina. Faktor sensitivitas hubungan bilateral antarkedua negara menjadi pertimbangan utama FIFA dalam mengambil kebijakan krusial ini.
FIFA menilai penunjukan wasit Inggris untuk laga yang melibatkan skuad Albiceleste sangat berisiko secara politis. Kebijakan ini diambil berdasarkan pertimbangan akal sehat demi meminimalkan tekanan psikologis eksternal terhadap perangkat pertandingan.
Juru bicara FIFA telah mengonfirmasi bahwa Perang Falklands tahun 1982 merupakan salah satu faktor yang dipertimbangkan saat menunjuk wasit. Sentimen historis masa lalu itu dinilai masih terlalu sensitif untuk diabaikan begitu saja dalam sebuah turnamen olahraga.
Baca Juga: Bocor Konfrontasi Messi dan Wasit Saat Argentina Menang Kontroversial
Saling silang larangan ini berlaku mengikat di mana wasit Inggris tidak boleh memimpin laga Argentina, begitupun sebaliknya. Aturan ketat tersebut mencakup semua laga yang memiliki pengaruh langsung terhadap nasib kedua tim nasional tersebut.
Seperti dikutip Mirror, pada 2022, Taylor dan Oliver tidak mendapatkan kesempatan untuk memimpin laga final Piala Dunia 2022 karena keterlibatan Argentina. Kala itu, Tim Tango sukses keluar sebagai juara dunia setelah menumbangkan Prancis lewat drama adu penalti.
Artikel Terkait
Spanyol Tembus Semifinal Piala Dunia 2026 Hanya Kebobolan Sekali
Ibrahima Konate Ingatkan Prancis Jangan Fokus pada Lamine Yamal
Diego Forlan Rangkap Jabatan Jadi Pelatih Uruguay
FIFA Pertimbangkan Tambah Peserta Piala Dunia 2030 Jadi 64 Negara