SportlinkNews - Mantan juru taktik Manchester City, Pep Guardiola, secara mengejutkan menyatakan tidak memberikan dukungan mutlak kepada tim nasional Spanyol pada pergelaran Piala Dunia 2026. Ia justru memilih bersikap netral dengan mengalihkan perhatiannya kepada deretan pemain favoritnya dari berbagai negara kontestan.
Pernyataan itu disampaikan Guardiola dalam sesi wawancara bersama mitra global OKX baru-baru ini. Selain membahas peta persaingan turnamen sepak bola terakbar dunia, ia juga membeberkan dinamika kehidupannya pascamundur dari kursi kepelatihan Manchester City.
Pria berusia 55 tahun tersebut diketahui menyudahi pengabdian panjangnya bersama Manchester City setelah mempersembahkan segudang trofi prestisius. Keputusan tersebut diambil demi mendapatkan waktu istirahat yang berkualitas bersama keluarga besarnya serta menjajaki berbagai aktivitas baru di luar lapangan hijau.
Baca Juga: Persija Jalani Program Pemusatan Latihan di Thailand, Shin Tae-yong Bantah Absen di Piala Presiden
"Saya mulai melatih pada usia 37 tahun di Barcelona dan sekarang saya berusia 56 tahun. Saya perlu melakukan hal-hal baru. Saat ini saya sangat bahagia," kata Guardiola.
Kendati tengah menikmati masa rehat, legenda hidup Barcelona tersebut mengonfirmasi ikatan emosionalnya dengan manajemen The Citizens tidak akan pernah terputus. Ia membuka peluang untuk kembali ke klub asal Manchester tersebut pada masa depan dengan peran yang kemungkinan berbeda.
"Suatu hari nanti, tentu saja saya akan kembali ke Etihad. Tetapi sekarang saya ingin berada di balik layar. Jika mereka membutuhkan saya, saya akan selalu ada," ucapnya.
Baca Juga: Dominik Szoboszlai Bertahan di Liverpool dengan Kontrak Jangka Panjang Baru
Kepergian Guardiola memaksa Manchester City memulai lembaran baru di bawah kepemimpinan manajer anyar Enzo Maresca. Suksesor asal Italia tersebut langsung dibebani target tinggi untuk mengembalikan kejayaan klub setelah mengalami performa yang dinilai kurang memuaskan.
Dalam kesempatan yang sama, Guardiola turut merefleksikan rivalitas taktis paling sengit yang pernah dihadapi sepanjang karier profesionalnya. Mantan nakhoda Liverpool, Jurgen Klopp, disebut sebagai satu-satunya pelatih yang paling sering menguras energi serta pemikiran taktisnya.
"Jurgen adalah rival terbesar dalam karier saya. Dia bisa mengubah sistem permainan setiap 20 menit. Itu membuat saya gila," ungkapnya.
Baca Juga: Cicipi Liga Primer, Tarik Muharemovic Pindah dari Sassuolo ke Leeds United
Terkait perhelatan Piala Dunia 2026, Guardiola menegaskan enggan terjebak pada fanatisme kedaerahan. Fokus utamanya kini hanyalah menikmati keindahan permainan dari para pesepak bola yang memiliki kedekatan emosional maupun taktis dengan dirinya.
"Saya akan menikmati Piala Dunia karena ada banyak pemain yang saya kagumi. Saya selalu mendukung tim yang memiliki pemain yang saya sukai," tuturnya.
Artikel Terkait
Euforia Piala Dunia 2026, Nama Haaland Meroket di Bayi Peru
Bidik Tempat Ketiga Piala Dunia 2026, Inggris Incar Rekor Terbaik 60 Tahun
FIFA Dobrak Tradisi, Juara Piala Dunia 2026 Bakal Dianugerahi Cincin Eksklusif
Demi Suporter, Didier Deschamps Tegaskan Prancis Wajib Tekuk Inggris
Lionel Scaloni Klaim Sudah Kantongi Cetak Biru Permainan Spanyol Sejak Lama