SportlinkNews - Luis Enrique dalam misi menghapus status "nyaris" untuk Paris Saint-Germain saat melangkah ke final Liga Champions UEFA.
Dia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa keluar dari bayang-bayang era keemasan Barcelona dan membawa PSG mengangkat 'Si Kuping Besar' untuk kali pertama.
Kemenangan 2-1 atas Arsenal di Parc des Princes, Kamis, 8 Mei 2025, membuat PSG menang agregat 3-1 dan membawa Enrique kembali ke panggung tertinggi Eropa.
Dia menunjukkan bahwa timnya memiliki ketegasan dan ketenangan khas Lucho.
Baca Juga: F50 Kembali! adidas Hidupkan Kembali Sepatu Legendaris Piala Dunia 2010
PSG akan menghadapi Inter Milan pada final Liga Champions musim ini yang digelar 1 Juni di Allianz Arena, Munchen.
Ini adalah keduanya kalinya Enrique sukses mengantar timnya ke final Eropa. Sebelumnya dia membawa Barcelona di puncak tertinggi turnamen ini pada 2015 lalu, usai mengalahkan Juventus di final.
Kini, ia memiliki peluang yang sama untuk mengulang lagi kejayaannya. Membuat sejarah baru bersama klub yang belum pernah juara.
Baca Juga: Sukses Comeback, Knicks Kunci Gim 2 Semifinal Konferensi
"Aku tidak perlu mengubah apa pun. Yang penting adalah membangun mentalitas untuk laga final," ujar Enrique pada PSG TV dengan nada tenang namun penuh percaya diri.
PSG musim ini tampil sedikit berbeda. Di kuasai oleh para pemain muda, dengan rata-rata usia 23,8 tahun, PSG menjadi tim termuda dari 36 peserta fase utama Liga Champions.
Sementara calon lawan mereka final nanti, Inter Milan, memiliki rata-rata pemain dengan usia yang lebih matang, yakni 29,5 tahun atau yang tertua di kompetisi.
Meski turun dengan skuat muda, tetapi Enrique memastikan nyali timnya lebih besar, tidak ada kata gentar.
Baca Juga: Fatty Liver, Penyakit Orang Tua yang Kini Mengincar Usia Produktif
Menurutnya, PSG sudah menunjukkan "wajah sebenarnya" musim ini, bukti dari kedewasaan dan perkembangan tim di bawah arahannya.
Final ini menjadi laga ke-61 Lucho sebagai pelatih di Liga Champions, yang mana 33 di antaranya dijalaninya bersama Barcelona.
Ia unggul pengalaman atas Simone Inzaghi, pelatih Inter, yang baru memimpin 51 laga di ajang ini.
"Dia genius secara taktik dan hebat di ruang ganti," puji Achraf Hakimi, mantan pemain Inter yang kini jadi andalan Enrique di PSG.