Sedangkan untuk Indonesia, filosofi mereka hanyalah "mengandalkan" Belanda. Dari cara mereka memanfaatkan sumber daya manusia hingga perekrutan pelatih, Indonesia sangat bergantung pada sumber daya manusia dari Belanda.
Itulah sebabnya Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) tak ragu memecat Shin Tae-yong dan mendatangkan Patrick Kluivert.
Baca Juga: Langkah Manis Ganda Putri Indonesia di French Open 2025: Tiga Pasangan ke Babak 16 Besar
Sayangnya, kemampuan bahasa Kluivert yang mumpuni tidak dapat membantunya mengatasi kekurangannya dalam hal kualifikasi dan pengalaman melatih.
Dalam dua kekalahan terakhir dari Arab Saudi dan Irak di kualifikasi Piala Dunia 2026, mantan penyerang Barcelona itu tampak kurang berpengalaman dibandingkan rekan-rekannya.
Hal ini wajar karena sepanjang karier kepelatihannya, ia tak pernah meraih kesuksesan. Bahkan di tim nasional Curacao dan klub Adana Demirspor, Kluivert tampil sangat mengecewakan akibat performanya yang buruk.
Baca Juga: Arsenal 4 Atletico Madrid 0: Empat Gol Lahir dalam 13 Menit
Keputusan penunjukan Kluivert bisa dibilang merupakan langkah yang keliru dari PSSI.
Mereka memiliki filosofi yang sama, tetapi dari segi teori hingga praktik, masih terdapat kesenjangan yang besar. Kepercayaan Thailand dan Singapura terhadap pelatih Jepang juga merupakan pilihan yang keliru.
Berdiri di Persimpangan
Saat ini, sepak bola Thailand, Singapura, dan Indonesia berada di persimpangan dengan pertanyaan-pertanyaan sulit yang perlu dijawab.
Bagi rakyat Thailand, akankah mereka melanjutkan jalur "Jepangisasi" atau akankah mereka memilih ideologi baru? Menemukan jawabannya akan sangat sulit karena ini bukan pertama kalinya sepak bola Thailand gagal mempercayakan pelatih Jepang.
Baca Juga: Isyarat Balik ke Timnas Indonesia? Shin Tae-yong Suka Unggahan Erick Thohir di Instagram
Sedangkan untuk sepak bola Indonesia, tampaknya mereka akan tetap mempercayakan pelatih mereka kepada pelatih Belanda.
Namun pertanyaannya adalah siapa yang akan dipilih Indonesia dan ahli strategi bergengsi mana yang bersedia mengorbankan kariernya untuk kembali ke dataran rendah dan memimpin tim yang kompleks seperti Indonesia?
Sementara itu, bagi Asosiasi Sepak Bola Singapura (FAS), pertanyaannya sama sulitnya. Akankah mereka merekrut pelatih asing yang terkenal atau tetap mempercayakan pada Gavin Lee, pelatih lokal yang kurang terkenal namun berkinerja baik?