Namun pengalaman, karakter, dan mentalitas bertanding yang dimiliki Vatreni membuat mereka selalu mampu bersaing dengan siapa pun.
Piala Dunia 2026 bisa menjadi panggung terakhir Luka Modric bersama tim nasional. Jika benar demikian, Kroasia tentu ingin menutup era sang legenda dengan pencapaian besar lainnya.
Dan melihat sejarah yang mereka miliki, tidak ada alasan untuk meragukan kemampuan Kroasia kembali melangkah jauh di panggung sepak bola terbesar dunia.
Baca Juga: Raul Jimenez Tinggalkan Fulham dan Bergabung dengan Wolverhampton Wanderers
Gaya Bermain Kroasia
Kroasia tetap mempertahankan identitasnya sebagai tim yang mengandalkan penguasaan bola dan kecerdasan taktik di Piala Dunia 2026.
Di bawah arahan pelatih Zlatko Dalic, Vatreni umumnya bermain dengan formasi 4-2-3-1 yang menitikberatkan pada kontrol permainan melalui dominasi lini tengah dan sirkulasi bola yang rapi.
Kekuatan utama Kroasia berada di sektor tengah.
Duet Luka Modric dan Mateo Kovacic menjadi motor permainan yang bertugas mengatur tempo, mendistribusikan bola, sekaligus menjaga penguasaan bola agar tim tetap mengendalikan jalannya pertandingan.
Baca Juga: Ze Gomes Dipercaya Meracik Skuat Madura United untuk Super League Musim 2026/27
Dengan operan-operan pendek yang terstruktur, Kroasia mampu membangun serangan secara sabar dari lini belakang.
Meski identik dengan permainan yang tenang dan metodis, Kroasia tetap berbahaya saat melakukan transisi. Mereka kerap memanfaatkan ruang di sisi lapangan sebelum mengalirkan bola dengan cepat ke area pertahanan lawan.
Pendekatan ini membuat serangan Kroasia sulit ditebak dan efektif menghadapi tim yang bermain terbuka.
Di sektor pertahanan, kehadiran Josko Gvardiol memberikan jaminan stabilitas. Kroasia mengandalkan organisasi pertahanan yang disiplin dan kerja kolektif seluruh pemain untuk meredam tekanan lawan.
Baca Juga: Sampul Digital | Kylian Mbappe Sudah Memikirkan Momen Selanjutnya
Pengalaman tampil dalam banyak pertandingan besar juga membuat mereka sangat piawai dalam mengelola pertandingan, terutama ketika berada dalam posisi unggul atau menghadapi situasi-situasi krusial di fase gugur.
Pemain yang Patut Diperhatikan
Luka Modric: Meski telah berusia 40 tahun, Modric masih menjadi jantung permainan Kroasia. Gelandang AC Milan itu berperan sebagai pengatur tempo, kreator serangan, sekaligus pemimpin di lapangan.
Pengalaman tampil dalam lima edisi Piala Dunia menjadikannya sosok yang tak tergantikan bagi Vatreni.
Ivan Perisic: Pada usia 37 tahun, Perisic tetap menjadi ancaman di sektor sayap. Pemain PSV Eindhoven tersebut dikenal berkat kecepatan, kerja keras, dan kemampuannya mencetak gol pada laga-laga besar.
Baca Juga: Istri Lionel Messi, Antonela Roccuzzo Tampil Berani dalam Balutan Bikini Mungil
Ia merupakan pencetak gol terbanyak kedua Kroasia sepanjang sejarah, hanya kalah dari Davor Suker.
Mateo Kovacic: Kovacic menjadi penyeimbang lini tengah Kroasia. Kemampuannya menjaga penguasaan bola, memutus serangan lawan, dan mendukung transisi membuatnya menjadi partner ideal bagi Modric dalam mengendalikan permainan.
Josko Gvardiol: Gvardiol merupakan pilar utama pertahanan Kroasia dan salah satu bek terbaik generasinya.
Meski sempat menjalani operasi akibat patah tulang kering pada awal 2026, kehadirannya akan sangat menentukan kekuatan lini belakang Kroasia di Amerika Utara.
Baca Juga: Vietnam Tersingkir, Timnas Indonesia Tantang Australia
Kekuatan Timnas Kroasia
Lini tengah berkelas dunia: Kroasia masih mengandalkan kualitas Luka Modric dan Mateo Kovacic sebagai pengatur ritme permainan.