Argentina belum pernah merasakan kekalahan di semifinal Piala Dunia.
Selain itu, Lautaro Martinez selalu siap menghukum lawan dari bangku cadangan. Perbedaan antara kedua striker ini menciptakan masalah sulit bagi pertahanan Inggris: Alvarez lebih suka memanfaatkan ruang di sayap, sementara Lautaro adalah penyerang tengah langsung.
Terlebih lagi, umpan panjang dari kiper Emiliano Martinez yang diarahkan langsung ke Alvarez adalah senjata serangan balik yang perlu diwaspadai Inggris.
3. Memanfaatkan kelemahan di sisi sayap dan peluang yang diperebutkan.
Meskipun memiliki duet bek tengah yang tangguh, Lisandro Martinez dan Cristian Romero, Argentina menunjukkan kelemahan di posisi bek sayap.
Baca Juga: Power Rankings Piala Dunia FIFA: Messi Tertinggal dari Mbappe, Ronaldo Dibantu Naik
Mereka kekurangan bintang kelas dunia di sisi sayap, dan di sinilah Anthony Gordon dapat memaksimalkan kecepatannya.
Pelajaran dari Dan Ndoye dari Swiss, yang terus-menerus mengganggu sayap Argentina, merupakan saran penting bagi Tuchel.
Selain itu, lini tengah Argentina, kecuali Leandro Paredes, tidak terlalu nyaman di bawah tekanan fisik yang konstan.
Pemain agresif seperti Declan Rice dan Elliot Anderson perlu mempertahankan tingkat pressing yang tinggi untuk mengganggu sirkulasi bola lawan. Argentina juga cenderung kehilangan fokus setelah unggul, kebiasaan berbahaya yang perlu dimanfaatkan Inggris.
4. Mengatasi tekanan psikologis dan belajar dari pelajaran Beckham.
Setiap pertandingan Argentina di Piala Dunia bagaikan kuali yang dipenuhi dukungan penuh semangat dari para penggemar.
Baca Juga: Rute Terjal Inggris Menuju Semifinal Piala Dunia 2026
Kekuatan mental ini sering membantu pemain seperti Romero atau Lisandro Martinez tampil lebih dari 100%. Bagi Inggris, menjaga ketenangan sangatlah penting.
Argentina selalu menerima dukungan antusias dari para penggemar di Piala Dunia.
Sejarah bentrokan antara kedua tim selalu penuh dengan momen dramatis dan kontroversi. Tendangan balasan David Beckham terhadap Diego Simeone pada tahun 1998, yang berujung pada kartu merah yang fatal, tetap menjadi pelajaran pahit.
Dalam pertandingan di mana emosi dapat mengalahkan akal sehat, para pemain Inggris perlu tetap tenang menghadapi provokasi, dan pada saat yang sama, mereka dapat menggunakan taktik psikologis ini untuk membuat pemain lawan yang mudah marah seperti Romero melakukan kesalahan.
Baca Juga: Resmi Jadi WNI, Mitchell Baker Siap Perkuat Timnas Indonesia di ASEAN Championship 2026
Inggris berharap dapat menghindari terulangnya nasib pahit yang mereka alami di Piala Dunia 1998.