lain-lain-otomotif

Mohammed Ben Sulayem Kembali Terpilih sebagai Presiden FIA untuk Periode Kedua

Jumat, 12 Desember 2025 | 20:40 WIB
Mohammed Ben Sulayem terpilih sebagai Presiden FIA untuk kedua kalinya (FIA)

SportlinkNews - Mohammed Ben Sulayem kembali terpilih sebagai Presiden FIA. Terpilihnya Sulayem mengakhiri pertarungan jabatan bergengsi di dunia motorsport.

Ben Sulayem secara kontroversial maju tanpa lawan dalam pemilihan presiden tahun ini, yang berlangsung di Tashkent, Uzbekistan.

Ben yang berasal dari Uni Emirat Arab ini akan menjabat untuk masa jabatan empat tahun kedua.

Baca Juga: Indonesia Taklukkan Myanmar 3-1, Jens Raven Cetak Brace

Pada masa jabatan pertamanya di tahun 2021, Ben unggul dengan 61,62% suara mengalahkan wakil presiden bidang olahraga saat itu, Graham Stoker, yang memperoleh 36,62%.

"Terima kasih kepada semua Anggota FIA kami atas suara yang luar biasa dan telah menaruh kepercayaan kepada saya sekali lagi," kata Ben Sulayem.

“Kita telah mengatasi banyak rintangan, tetapi hari ini, bersama-sama, kita lebih kuat dari sebelumnya," ucapnya.

Baca Juga: Bojan Hodak Bakal Rotasi Pemainnya Menghadapi Malut United FC di Ternate

“Sungguh suatu kehormatan untuk menjadi Presiden FIA, dan saya berkomitmen untuk terus memberikan yang terbaik bagi FIA, bagi olahraga motor, bagi mobilitas, dan bagi Klub Anggota kami di setiap wilayah di seluruh dunia,” tegasnya.

Ben yang kini berusia 64 tahun mendapat banyak saingan pada pemilihan kali ini, seperti mantan steward FIA Tim Mayer, pembalap Laura Villars, dan Virginie Philippot, seorang model dan influencer.

Namun, tidak satu pun dari pesaing itu yang benar-benar dapat maju, karena aturan yang mengharuskan setiap kandidat untuk membentuk tim yang terdiri dari tujuh wakil presiden dari enam wilayah global FIA.

Baca Juga: Legenda Balap Sepeda Inggris Ini Mengalami Kecelakaan Terburuk dalam Insiden Sepeda Gunung

Satu-satunya wakil presiden yang memenuhi syarat dari Amerika Selatan, Fabiana Ecclestone, menyatakan dukungannya kepada Ben Sulayem.

Proses tersebut dikecam sebagai "ilusi demokrasi" oleh Tim Mayer, yang menyatakan bahwa beberapa wakil presiden yang memenuhi syarat dari Amerika Selatan mungkin telah "dibujuk, ditekan, atau dijanjikan sesuatu untuk tidak maju".

Halaman:

Tags

Terkini