SportlinkNews - Operator kompetisi sepak bola profesional Indonesia, I.League, bersama PSSI memenuhi undangan Kementerian Hak Asasi Manusia (KemenHAM) RI untuk memberikan keterangan terkait penanganan dugaan rasisme dan perundungan dalam sepak bola nasional. Agenda tersebut digelar di Ruang Pengaduan Marsinah, Kantor KemenHAM RI, Jakarta.
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari laporan dan aspirasi publik terkait dugaan tindakan rasisme yang dialami pemain Malut United, Yakob Sayuri. KemenHAM memanggil para pemangku kepentingan sepak bola untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai langkah penanganan dan pencegahan kasus serupa.
Dalam forum tersebut, PSSI diminta menjelaskan kebijakan dan mekanisme penegakan disiplin yang telah diterapkan. I.League turut mendampingi sebagai operator kompetisi yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan liga dan perilaku seluruh pihak di lingkungan pertandingan.
Baca Juga: Audi Resmi Luncurkan Mobil Balap F1 R26 Siap Jalani Debut di Musim 2026
Selain perwakilan PSSI, pertemuan ini juga dihadiri Direktorat Jenderal Pelayanan dan Kepatuhan HAM, Komite Disiplin PSSI, serta jajaran manajemen I.League. Seluruh pihak menyampaikan peran dan langkah masing-masing dalam menjaga nilai hak asasi manusia di sepak bola.
I.League memaparkan sejumlah program pencegahan yang telah dijalankan sejak awal musim kompetisi. Program tersebut mencakup kampanye anti-rasisme dan anti-bullying yang dilakukan secara konsisten di berbagai platform dan aktivitas pertandingan.
Kampanye tersebut dilaksanakan melalui pesan visual di stadion, konten edukatif di media sosial, serta kegiatan langsung di lapangan. I.League juga menggandeng Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) sebagai mitra strategis untuk memperkuat pesan kepada pemain dan ofisial.
Baca Juga: Persik Kediri Masih Berburu Striker Asing yang Mumpuni Demi Hadapi Super League 2025/26
Staf Khusus Bidang Pemenuhan HAM Menteri HAM, Yos Nggarang, menyampaikan apresiasi terhadap langkah yang telah dilakukan oleh PSSI dan I.League.
“Sepak bola seharusnya menjadi wadah perdamaian dan persaudaraan tanpa memandang suku, ras, maupun warna kulit. Kami mengapresiasi komitmen PSSI & I.League dalam menjunjung nilai-nilai HAM dan berharap setiap pertandingan mencerminkan semangat tersebut. PSSI & I.League diharapkan berada di garis depan dalam melawan rasisme dan bullying,” ujar Yos Nggarang.
KemenHAM menilai keterlibatan aktif operator liga dan federasi menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan sepak bola yang aman dan inklusif. Upaya pencegahan dinilai harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya saat terjadi kasus.
Melalui pertemuan ini, KemenHAM juga mendorong adanya penguatan edukasi bagi seluruh pemangku kepentingan sepak bola, termasuk suporter, pemain, ofisial, dan perangkat pertandingan.
Kolaborasi lintas institusi antara KemenHAM, PSSI, dan I.League diharapkan mampu menekan potensi terulangnya kasus rasisme dan perundungan, sekaligus memperkuat tata kelola sepak bola nasional berbasis nilai keadilan dan penghormatan HAM.
Artikel Terkait
EPA Super League 2025/26 Bergulir, I.League Fokus Lahirkan Generasi Emas Baru
Atmosfer Stadion Membaik, I.League Siapkan Evaluasi Larangan Suporter Tandang
I.League X APPI Gaungkan Kampanye Nasional Anti Rasisme dan Anti Bullying
Charity Match APPI–I.League Himpun Rp265 Juta untuk Korban Bencana di Sumatera
I.League Hadirkan Panduan Praktis bagi Pemain dan Pelatih di BRI Super League 2025/26