liga-indonesia

Madura United Dukung Penambahan Kuota Asing Liga 1 untuk Musim Depan

Jumat, 16 Mei 2025 | 22:03 WIB
Selebrasi pemain asing Madura United saat pertandingan Liga 1 musim 2024/25 melawan Persija Jakarta beberapa waktu lalu.

SportlinkNews - Rencana PT Liga Indonesia Baru (LIB) untuk menambah kuota pemain asing menjadi 11 pemain pada kompetisi musim depan, disambut baik oleh Madura United. Kebijakan tersebut dinilai bisa membuat kompetisi naik kelas, namun ada catatan.

Hal tersebut diungkapkan Komisaris PT Polana Bola Madura Bersatu (PBMB) yang menaungi Madura United, Zia Ulhaq Abdurrahim, saat dihubungi, Jumat, 16 Mei 2025.

Menurutnya, keberadaan pemain asing yang kompetitif akan membantu klub-klub Indonesia bersaing di kompetisi Asia seperti AFC Challenge Cup. 

Karena seperti diketahui di level Asia Tenggara saja, Liga Kamboja menurutnya sudah menerapkan hal tersebut, sehingga mereka dapat bersaing di level lebih tinggi.

Baca Juga: Ajax Luncurkan Jersey Kandang 2025-2026, Rayakan 750 Tahun Kota Amsterdam

"Pertanyaannya pasti apakah tidak membuat pemain lokal jadi sulit bersaing? Seharusnya malah bagus, dengan berkompetitif dengan pemain asing, maka perkembangan pemain kita bisa meningkat, tinggal bagaimana pemain lokal kita ini ataupun pemain muda mau meningkatkan kualitas dan potensi dirinya," katanya.

"Kalau tidak mampu bersaing, ya pasti mereka akan ditinggal. Itu fair menurut saya," tambah Zia Ulhaq.

Agar kualitas pemain asing terjaga, tidak asal belanja pemain, ia pun menyarankan LIB menerapkan fungsi pemain asing tersebut dibatasnya, seperti era ISL dulu.

Baca Juga: Nuggets Sukses Paksakan Gim 7 Semifinal Konferensi

"Dulu jaman ISL ada kuota untuk pemain grade A, B, atau C. Untuk pemain yang bermain di Concacaf, gradenya harus B, kalau main di Eropa kastanya C dan untuk pemain Asia levelnya harus grade A bila mau bermain di Liga 1," imbhnya.

Terpenting agar klub tidak memonopoli dan belanja pemain asing ugal-ugalan, maka dia meminta penetapan salary cap secara tegas.

"Yang harus menggarisbawahi adalah pentingnya pengawasan dan regulasi finansial. Ini agar klub tidak jor-joran belanja dan tetap berada dalam kondisi keuangan yang sehat," tutur Zia Ulhaq,

Kalau salary cap-nya jelas, dan pelaporannya juga jelas, ini dinilainya bisa jadi sistem yang kompetitif dan adil. Ketimpangan anggaran belanja antar klub harus diatur secara proporsional.

Baca Juga: Gantikan Paul Munster, Uston Nawawi Diharapkan Bisa Bawa Kemenangan Bagi Persebaya

"Harus ada pemberlakuan persentase (belanja pemain). Misalnya, salary cap maksimal 50-60 miliar setahun, untuk tim-tim yang bersaing di top level, bermain akan bermain di Asia juga, bolehkah belanja 20% naiknya dari salary cap, lebih adil, ucap Zia Ulhaq.

Dari segi pasar pun, tentu masuknya pemain asing lebih banyak dinilainya akan menambah daya tarik penonton di stadion. 

Saat ini menurutnya, rata-rata tim kesulitan di income dari pemasukan penonton, padahal dari tiket seharusnya bisa menutup 40 persen pengeluaran tim.

"Siapa tahu dengan pemain asing yang cukup kompetitif, maka ini akan menambah juga menjadi yang nilai value kompetisi itu sendiri," ungkap Zia Ulhaq.

"Tinggal bagaimana klub nanti akan memaksimalkan 8 pemain, 10 pemain ataupun 11 pemain," itu yang menurutnya yang mau dilihat ke depan.




Tags

Terkini