Terutama, sebagian besar kandidat memasuki musim dengan keunggulan yang jelas dan tanda tanya.
Di Manchester City, Enzo Maresca mewarisi warisan besar yang ditinggalkan Pep Guardiola. Hal ini merupakan keuntungan sekaligus sumber tekanan.
Manajer asal Italia ini sangat dihargai karena filosofi penguasaan bolanya, namun kiprahnya bersama Leicester City di masa lalu dan Chelsea musim lalu sempat mengecewakan penggemar akibat pendekatan yang dianggap terlalu berhati-hati.
Baca Juga: Megawati Punya Kembaran di Hyundai Dipanggil Kakak
Mantan klubnya, Chelsea, juga kehilangan hingga 20 poin setelah sempat memimpin pertandingan di Liga Premier musim lalu. Saat mewarisi tim yang terbiasa dengan standar kemenangan yang hampir mutlak, Maresca harus membuktikan bahwa ia tidak hanya mampu mempertahankan sistem Guardiola, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan ciri khasnya sendiri.
Sementara Maresca menghadapi tekanan untuk meneruskan warisan tim, Xabi Alonso memiliki sesuatu yang didambakan banyak rival: waktu.
Chelsea tidak perlu membagi sumber daya antara Liga Champions dan Liga Europa, yang berarti Alonso memiliki lebih banyak waktu untuk membangun gaya permainan tim, melakukan rotasi skuad, dan menjaga kebugaran pemain kunci.
Baca Juga: Arsenal dan adidas Membawa Kembali Nuansa Klasik dengan Seragam Ketiga 2026/27
Dalam konteks di mana beban kerja pemain semakin menjadi faktor penentu dalam perebutan gelar, hal ini bisa menjadi keuntungan yang lebih besar dibandingkan perekrutan pemain baru mana pun.
Tottenham juga muncul sebagai kuda hitam yang patut diperhitungkan. Roberto De Zerbi memulai musim dengan skuad yang jauh lebih kuat setelah bursa transfer musim panas dan tanpa tekanan kompetisi Eropa.
Situasi ini memungkinkan ahli taktik asal Italia tersebut untuk menerapkan gaya permainan berintensitas tinggi yang sebelumnya melambungkan namanya di Brighton. Jika Spurs mampu menjaga konsistensi, mereka tentu bisa bersaing memperebutkan tiket Liga Champions, bahkan menyulitkan tim-tim kandidat juara.
Sementara itu, Andoni Iraola akan menghadapi tantangan yang sangat berbeda di Liverpool. Gaya permainan pressing berintensitas tinggi miliknya terbukti sukses saat menangani Rayo Vallecano dan Bournemouth, namun juga terbukti kurang efektif ketika stamina tim menurun di fase akhir pertandingan.
Baca Juga: Duel Persib Vs Persija, Adam Alis Ingatkan Bahayanya Macan Kemayoran
Kini, jadwal yang padat dan tekanan Liga Champions akan memaksa Iraola untuk menyesuaikan metode kepelatihan serta rotasi skuadnya jika ia ingin Liverpool tetap kompetitif di semua kompetisi.
Tidak ada kandidat yang memulai musim baru dengan dominasi mutlak seperti yang pernah dimiliki Ferguson, Mourinho, atau Guardiola. Namun, justru karena itulah, jarak kekuatan di antara mereka kini menjadi yang paling tipis dibandingkan sebelumnya.
Artikel Terkait
Bintang Brasil Gabung ke Newcastle, Unggah Update di Tengah Persaingan Transfer Arsenal
Mengupas Penampilan Manchester City di Bawah Pimpinan Enzo Maresca (1)
Rizky Ridho Akui Kesalahan, Bidik Kebangkitan Timnas Kontra Singapura
PBSI Bidik Kebangkitan di Asian Games 2026, Incar Emas Beregu Putra
PSSI Dukung Khiev Sameth Lanjut Pimpin AFF