SportlinkNews - Manajer Manchester City Enzo Maresca mengungkapkan pertimbangan teknis di balik keengganannya menunjuk Erling Haaland sebagai kapten tim. Pertimbangan taktis di pinggir lapangan menjadi alasan utama manajer asal Italia tersebut.
Haaland sebelumnya telah masuk dalam jajaran tim kapten The Citizens sejak awal 2025 di bawah arahan Pep Guardiola. Penyerang Norwegia tersebut ditunjuk bersama Kevin De Bruyne, Ruben Dias, Bernardo Silva, dan Rodri untuk menggantikan Kyle Walker yang hengkang ke AC Milan.
Dinamika internal kepemimpinan skuad mengalami perubahan signifikan seiring dengan gelombang kepindahan pilar-pilar senior klub. De Bruyne memutuskan berlabuh ke Napoli pada tahun lalu, sementara Silva yang menjabat kapten utama musim lalu telah hijrah ke Real Madrid.
Baca Juga: PSSI dan I League Gelar Match Commissioner Refreshment Super League & Championship 2026/27
Perubahan komposisi tersebut meninggalkan Dias, Rodri, dan Haaland sebagai figur senior yang tersisa di dalam struktur kepemimpinan tim. Situasi ini memicu spekulasi mengenai sosok yang akan mengemban ban kapten utama secara permanen.
Di sela-sela tur pramusim Manchester City di Korea Selatan, Maresca angkat bicara mengenai kriteria pimpinan di dalam lapangan. Ia membeberkan adanya kebiasaan taktis yang dinilai kurang cocok jika diemban Haaland.
Maresca menjelaskan memiliki standar komunikasi khusus antara manajer dan kapten tim saat pertandingan berlangsung. Kebiasaan tersebut rutin ia terapkan sejak menangani klub-klub terdahulu di Liga Inggris.
Baca Juga: Gila-gilaan Gaji Pemain Real Madrid 2026, Mabppe Paling Tinggi
"Saat (melatih) di Leicester (City) dan Chelsea, saya punya aturan bahwa ketika kami mencetak gol, kapten harus mendatangi bangku cadangan—bukan untuk merayakan gol, melainkan untuk menerima instruksi," kata Maresca, dikutip The Athletic.
Aturan interaksi taktis di pinggir lapangan ini yang dinilai sulit dijalankan jika Haaland ditunjuk sebagai kapten utama. Produktivitas tinggi sang penyerang dalam mencetak gol justru akan menyulitkan skema komunikasi tersebut.
"Namun, jika kapten sendiri yang mencetak gol, barulah dia boleh merayakannya. Kalau Erling yang jadi kapten… gawat! Kami bakal punya masalah, bisa kalian bayangkan?" kelakar Maresca.
Baca Juga: PSS Sleman Rilis Nama Pemain yang akan Menjalani Kompetisi Super League 2026/27
Instruksi cepat di pinggir lapangan dinilai sangat krusial untuk melakukan penyesuaian strategi di tengah jalannya laga. Komunikasi intensif tersebut membutuhkan figur kapten yang dapat berkoordinasi secara fleksibel dengan area teknis.
"Meski hanya dua atau tiga menit, selalu ada hal yang perlu disesuaikan (di lapangan). Kami punya tiga atau empat (kapten) dan kami sedang kehilangan satu orang. Untuk kasus Rodri (yang dirumorkan akan pindah), lihat saja nanti bagaimana perkembangannya," ucapnya.