liga-spanyol

Hansi Flick Beri Peringatan Lamine Yamal Terkait Pengibaran Bendera Palestina

Rabu, 13 Mei 2026 | 17:25 WIB
Lamine Yamal kibarkan bendera Palestina saat parade juara.

SportlinkNews - Perayaan gelar juara Barcelona diwarnai aksi solidaritas politik yang dilakukan oleh bintang muda, Lamine Yamal. Pemain berusia 18 tahun tersebut kedapatan mengibarkan bendera Palestina di tengah kemeriahan parade bus terbuka yang melintasi jalanan kota.

Momen tersebut terjadi saat Barcelona merayakan keberhasilan mengawinkan gelar juara LaLiga dan Piala Super Spanyol pada Senin (11/5) waktu setempat. Kehadiran bendera Palestina di atas bus juara langsung memicu diskusi luas karena sensitivitas isu tersebut di dunia olahraga.

Yamal terlihat dengan percaya diri memegang tongkat bendera yang berkibar di barisan depan bus tim di hadapan ribuan penggemar. Tindakan pemain jebolan La Masia ini menjadi sorotan tajam media internasional mengingat ketatnya aturan mengenai pesan politik di sepak bola.

Baca Juga: Marc Marquez Sukses Jalani Operasi Ganda di Madrid Bakal Absen di GP Catalunya

Pelatih Barcelona, Hansi Flick, akhirnya memberikan pernyataan terkait tindakan yang diambil oleh anak asuhnya tersebut. Ia secara terbuka mengakui dirinya memiliki pandangan pribadi yang berbeda mengenai penyampaian pesan non-olahraga di tengah euforia juara.

Meskipun secara personal tidak menyukai hal tersebut, pelatih asal Jerman ini memilih untuk tidak memberikan sanksi disiplin kepada Yamal. Flick berpandangan Yamal sudah memiliki kedewasaan untuk menanggung konsekuensi atas pilihan pribadinya.

"Ini adalah hal-hal yang biasanya tidak saya sukai. Saya sudah membicarakannya dengannya dan saya sudah bilang kepadanya bahwa jika dia ingin melakukannya, itu keputusan dia sendiri, dia sudah berusia 18 tahun," kata Hansi Flick, mengutip Marca.

Baca Juga: Bantah Isu Tak Akur, Messi Ungkap Rahasia Kedekatannya dengan Ronaldo

Flick menegaskan fokus utama seorang atlet seharusnya tetap berada pada tanggung jawab profesional di dalam maupun luar lapangan. Ia mengingatkan publik memiliki ekspektasi tinggi terhadap perilaku para pemain yang membawa nama besar institusi klub seperti Barcelona.

"Kami berkomitmen untuk bermain sepak bola dan kami harus mempertimbangkan apa yang diharapkan orang-orang dari kami," ucapnya.

Isu mengenai dukungan terhadap Palestina memang telah menjadi subjek yang sangat kontroversial di kancah sepak bola Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa klub dan federasi di liga-liga top dunia tercatat pernah mengambil tindakan keras terhadap personel yang menyuarakan sikap serupa.

Baca Juga: Pelatih Persebaya Apresiasi Dukungan Suporter dan Kerja Keras Tim

Sebagai contoh, klub Bundesliga Mainz 05 sempat memutus kontrak Anwar El Ghazi secara sepihak setelah memberikan pembelaan terhadap Palestina pada 2023. Kasus pemutusan hubungan kerja tersebut berbuntut panjang hingga masuk ke ranah hukum yang cukup alot.

El Ghazi akhirnya memenangkan gugatannya di Pengadilan Arbitrase setelah memperjuangkan haknya atas kebebasan berekspresi. Keputusan hukum tersebut menjadi preseden penting mengenai perlindungan hak pemain dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan di Eropa.

Halaman:

Tags

Terkini