KONI Dorong Indonesia Jadi Sport Nation Menuju Olimpiade 2044

Gbonk Anaqy Setyawan, Sportlink News
- Sabtu, 16 Mei 2026 | 21:50 WIB
Sekjen Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat Drs. Tubagus Lukman Djajadikusuma, MEMOS, menegaskan bahwa olahraga harus menjadi gerakan nasional yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat.   (KONI Pusat)
Sekjen Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat Drs. Tubagus Lukman Djajadikusuma, MEMOS, menegaskan bahwa olahraga harus menjadi gerakan nasional yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat. (KONI Pusat)

SportlinkNews - Indonesia mungkin sudah memiliki jutaan penggemar olahraga, tetapi belum sepenuhnya menjadi bangsa olahraga.

Di tengah ambisi besar menuju Indonesia Emas 2045 dan target lima besar Olimpiade 2044, satu pertanyaan mulai muncul, apakah ekosistem olahraga nasional sudah benar-benar dibangun untuk melahirkan negara berstatus sport nation?

Pertanyaan itu disorot Sekjen Komite Olahraga Nasional Indonesia Pusat, Tubagus Lukman Djajadikusuma, dalam Podcast SportlinkNews di Gedung KONI Pusat, Jakarta, Jumat, 15 Mei 2026.

Baca Juga: IBL Awards 2026 Resmi Dimulai, Persaingan MVP Memanas

Menurut pria yang akrab disapa Ade Lukman itu, Indonesia tidak kekurangan bakat atlet. Masalah utamanya justru berada pada sistem yang belum sepenuhnya bergerak sebagai ekosistem olahraga modern.

"Kita punya atlet berbakat, tapi sistem pendukungnya sedang mengalami anemia kronis," ujar Ade Lukman.

Ia menilai konsep sport nation bukan sekadar soal mengejar medali internasional, melainkan membangun budaya olahraga yang hidup sejak usia dini hingga level profesional.

Baca Juga: Thailand Open 2026: Tantang Unggulan Pertama, Misi Revans Leo/Daniel Sekaligus Buru Gelar Juara

Dalam model tersebut, olahraga diposisikan sebagai investasi pembangunan manusia, bukan sekadar pengeluaran anggaran.

"Kalau masyarakat sehat, prestasi olahraga akan mengikuti. Kita harus berhenti melihat olahraga sebagai cost, tetapi investasi," imbuhnya.

Ade Lukman mencontohkan sistem pembinaan olahraga di Amerika Serikat yang menjadikan sekolah dan kompetisi usia muda sebagai fondasi utama lahirnya atlet elite.

Baca Juga: Pistons Bangkit di Cleveland, Final Timur Ditentukan di Gim 7

Menurutnya, Indonesia perlu bergerak ke arah yang sama jika serius ingin berbicara banyak di Olimpiade dalam dua dekade mendatang.

"Kita harap atlet muncul dari sekolah. Karena itu harus ada kompetisi yang banyak dan berjenjang," ucapnya.

Ade Lukman mengingatkan waktu menuju Olimpiade 2044 tinggal 18 tahun. Artinya, atlet yang diproyeksikan bersaing di masa tersebut seharusnya sudah mulai dibina dari sekarang agar mencapai usia emas ketika target besar itu tiba.

Halaman:

Editor: Gbonk Anaqy Setyawan

Sumber: KONI

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kim Kardashian Jadikan Hamilton Pria Bahagia

Jumat, 3 Juli 2026 | 07:42 WIB

Perjalanan Messi - Anggur M: Mabuk, Khawatir!

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:38 WIB

Pacar Marcus Rashford Terbaring Sambil Menangis

Minggu, 28 Juni 2026 | 08:51 WIB

Pesta Suporter Meksiko Berujung Tragedi

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:20 WIB
X