Sebagai usulan, untuk mendamaikan para simpatisan, KDM bertemu Mas Pramono Anung, Gubernur Jakarta. Mereka duduk bersama membincangkan kemunginan perdamaian abadi.
Hal lain yang menyedihkan terjadi di sekitar Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur. Stadion yang bukan karena kesalahan Aremania, terjadi kekacauan bukan kerusuhan, karena tidak ada perkelahian, jatuh korban 125 meninggal.
Menurut catatan detiknews: Tragedi Kanjuruhan bermula pasca-pertandingan Arema FC vs Persebaya, pada Sabtu (1/10/2022) malam.Insiden terjadi sebab para suporter berdesakan keluar stadion karena panik setelah polisi tembakkan gas air mata.
Baca Juga: Bagaimana Teknologi Olahraga Membantu Menetapkan Metrik Pemain untuk Wanita
Buntutnya lebih dari dua tahun Aremania tidak dapat menyaksikan laga-laga Arema di kandang. Dan, Aremania menjadi 'tertuduh', padahal sejatinya mereka adalah korban.
Setelah lama tak bisa menyaksikan laga klub kesayangan, eee kok di laga perdana terjafi sesuatu yang tak mengenakan. Begini menurut CNN Indonesia -- Pelatih Persik Kediri Divaldo Alves dilaporkan mengalami luka ringan akibat insiden pelemparan batu orang tak dikenal ke bus tim usai laga melawan Arema FC di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Minggu (11/5).
Manajer Persik Kediri Moch Syahid Nur Ichsan menyebut peristiwa pelemparan itu menyebabkan beberapa orang mengalami luka ringan, di antaranya adalah pelatih tim tersebut Divaldo Alves dan asisten pelatih.
Jika sudah demikian, apa yang harus kita lakukan?
Baca Juga: Marc Marquez 80 Persen Yakin Akan Kecelakaan di Le Mans
Saya sepakat dengan sahabat Rendra di grup Rembuk Sepak Bola Nasional (RSN) dan seperti saya tulis beberapa waktu lalu, mereka saya yakini adalah para simpatisan atau Rendra menyebutnya penumpang gelap (PG).
Simpatisan/PG tidak memiliki ikatan emosional yang lurus pada klub. Untuk itu, mereka tak perduli apakah tindakannya akan berdampak apa pun terhadap klub bahkan suporter yg sesungguhnya. Mereka mengabaikan segalanya terpenting hati mereka senang.
Bersyukurnya dalam tayangan video yang viral itu, terlihat jelas oknum-oknumnya. Meski berat, rasanya para pimpinan pendukung yang asli: Viking Persib Club (VPC), Bomber Persib, 26cc Boys, Northern Wall (NW), dan Frontline Boys, bisa segera melacaknya. Lalu, jangan ragu untuk melaporkannya dan memberi hukuman konkret.
Baca Juga: Statistik Calvin Verdonk Jadi Kapten saat NEC Gilas Ajax 3-0
Dengan begitu, maka suporter yang sesungguhnya bisa terlindungi. Bukan hanya pendukung Persib, para pendukung klub-klub lain juga wajib melakukan hal serupa.
Para simpatisan ini seperti kumpulan para preman yang berbaju ormas. Satu saja dari mereka berbuat onar, maka ormas-ormas yang selama ini menjalankan fungsinya dengan baik dan benar, ikut menjadi korban.
Artikel Terkait
Top Markotop! Pecahkan Rekor, Rahmat Borong Tiga Emas Kejuaraan Asia
Coco Gauff Perkenalkan Kolaborasi Terobosan Miu Miu x New Balance
Mengapa Olahraga Sangat Penting bagi Budaya Kita?
Gim 4 Semifinal Konferensi, Shai Gilgeous-Alexander Tersenyum Usai Thunder Sukses Revans atas Denver Nuggets
PSIS Semarang Resmi Degradasi, Kiper Malut United Sampaikan Harapan dan Terima Kasih