Namun, impian adanya timnas kita berlaga di putaran final Piala Dunia serta Olimpiade, terus pula menguap ditiup angin.
Mengapa? Banyak hal yang menjadi kendala. Salah satunya, maaf, anak-anak kita hampir selalu nervous atau minder jika harus bertemu dengan pemain-pemain asing. Dalam kondisi seperti itu, sehebat apa pun skill kita, akan lenyap.
Baca Juga: Komentar Shin Tae-yong Usai Timnas Indonesia Bungkam Vietnam 3-0
Menyadari hal itu, maka Nirwan atau akrab disapa NDB, membentuk tim Primavera yang berlatih dan ikut kompetisi kelompok umur di Italia. Sebelumnya Sigit membentuk PSSI Garuda. Seperti kita ketahui, hasilnya masih jauh dari memuaskan.
Jika sekarang PSSI melanjutkan mencari jalan pintas, memurut hemat saya, tidak ada yang keliru. Jika dulu era 1970-80an Simon Tahamata yang murni berdarah Maluku namun lahir di Netherland lebih memilih menjadi pemain masional Belanda, juga tidak salah. Pun Raja Nainggolan yang lebih memilih Belgia negara ibunya, sama sekali tidak keliru.
Kita belum memiliki timnas, maaf, yang punya masa depan. Tapi sekarang? Begitu banyak pemain-pemain keturunan siap diambil sumpahnya untuk dan demi Merah-Putih. Mengapa? Karena tim nasional telah memiliki masa depan yang baik.
Kondisi ini menurut saya karena langkah Ketum Erick Thohir dengan duet mautnya Waketum PSSI, Prof. Zainudin Amali serta peran Sekertaris Jendralnya Yunus Nusi, begitu efektif. Tanggap, cepat, dan tepat, maka kondisi positif dapat kita rasakan.
Meski perjalanan masih panjang, saya memperkirakan masih 4-5 tahun lagi baru hasil maksimal bisa dipetik, tapi sinar terang sudah terlihat di ujung sana. Ya, rasa bahagia telah menjalar, jalan yang benar sudah semakin dekat.
Lalu, bagaimana dengan pemain-pemain lokal? Ini adalah tantangan yang besar. Artinya, jika dulu mereka hanya bersaing dengan pemain-pemain sempatan, klub-klub domestik, dengan sesama pemain yang memiliki segala rupa nyaris sama, kini mereka harus bersaing dengan saudara-saudara mereka yang ada di luar sana.
Bagi pemain memiliki mental kuat dan impian tegas, tantangan ini akan membuat mereka terpacu untuk maju. Tapi, jika mental dan impiannya biasa-biasa saja, mereka akan tenggelam dimakan waktu.
Meski demikian, saya selaku pribadi, tetap dapat menghormati sebarisan orang yang tidak setuju naturalisasi. Ada beberapa mantan bintang nasional sempat berkata kepada saya: "MN, saat ini, saya kok merasa seperti tidak punya tim nasional ya!" kata mereka.
M. Nigara
Wartawan Sepakbola Senior
Artikel Terkait
Timnas Indonesia Berpeluang Lolos Putaran 3 Piala Dunia 2026, Erick Thohir Minta Fokus Laga Hidup Mati
Keunggulan Atlet Lengan Panjang
Amerika Umumkan Timnas Basket 3x3 Putra untuk Olimpiade Paris
Delapan Atlet Jadi Wajah Merek Fashion Ternama
Sneaker Adidas Samba Terinspirasi GOAT Lionel Messi