- M. Nigara
Wartawan Sepakbola Senior
SportlinkNews - Lebih berat, begitu banyak pihak menyebut peluang timna U-23 Indonesia melawan Guinea, Kamis (9/5/24) di Paris, dalam babak play off menuju Olimpiade Paris 2024.
Tiga tiket Olimpiade cabang sepakbola untuk Asia sudah diraih Jepang, Uzbekistan, dan Irak sebagai juara Asia, runner up, dan peringkat ketiga.
Indonesia sendiri dua kali gagal meraih tiket langsung, di semifinal Piala Asia U23, kalah 0-2 dari Uzbekistan dan kalah dari Irak dalam laga perebutan peringkat tiga.
Baca Juga: Timnas U-23 Indonesia Menuju Play-off Olimpiade Paris 2024
Sebagai peringkat ke-4, Timnas U-23 Indonesia harus bertarung memperebutkan setengah tiket jatah Asia dan setengah tiket jatah Afrika, lawan dari Afrika Barat, Guinea.
Tahun 1975, kita juga pernah bertarung melawan Korea Utara untuk memperebutkan satu tiket menuju Olimpiade Montreal.
Tim asuhan pelatih asal Belanda, Wiel Coerver itu, nyaris meraih tiket dalam drama adu penalti. Sayang tendangan Anjas Asmara terlalu lemah hingga dapat tangkap kiper Korut. Sebetulnya saat itu, kita sudah unggul angka dan penendang.
Baca Juga: Resmi, Play-off Timnas U-23 Indonesia Vs Guinea Digelar Tertutup di Paris
Timnas kita pernah tampil di Olimpiade Melbourne, Australis, 1956. Ramang, Maulwi Saelan, Thio Him Tjiang, Ramlan Yatim Chairuddin Siregar, Tan Liong Houw (saksi hidup yang masih ada) dan lain-lain.
Saat itu belum ada kualifikasi, 10 negara yang hadir atas undangan tuan rumah. Sebetulnya 11 negara, tetapi Vietnam Selatan yang di laga awal harus berhadapan dengan kita, tidak datang. Di babak kedua, kita bertemu Uni Soviet yang menang 2-1 atas Jerman.
Ramang cs di laga awal (26/11/1956), bisa menahan Soviet 0-0. Namun dalam laga play-off (1/12/1956), kita kalah 0-4. Dan Uni Soviet akhirnya juara setelah mengalahkan Yugoslavia, 1-0. Wakil Asean lainnya (saat itu tentu belum ada), Thailand, dihajar Inggris 9-0.
Baca Juga: Laboratario17 Membuat Kustom Inter Jordan 1
Belum pernah
Kedua timnas belum pernah bertemu dalam event apa pun. Untuk itu, secara teori, sebenarnya tidak bisa dikatakan berat atau ringan. Hal itu berlaku pada Indonesia maupun Guinea.
Secara selintas, meski negeri di West Africa itu bukan negeri seperti: Maroko, Senegal, Nigeria, Mesir, Pantai Gading, Tunisia, Aljazair, Mali, Kamerun, Afrika Selatan, dan Ghana, tetapi Guinea pasti bukan tim yang lemah.
Artikel Terkait
FIBA Meminta Indonesia Jadi Kandidat Tuan Rumah Kejuaraan Dunia Basket U-19
Jepang Kalahkan Uzbekistan Pecahkan Rekor Juara Piala Asia untuk Kedua Kalinya
Piala Thomas 2024: Senyum Final Jonatan Christie
Jam Tangan Keren Pembalap F1, Jangan Tanya Harganya!
Kemajuan Teknologi dalam Tinju: Menempatkan Ilmu Pengetahuan dalam Sains yang Manis