Namun jauh lebih penting untuk seluruh pemain muda.
Keberhasilan bukan harus dengan membusungkan dada. Sebaliknya gagal bukan petaka yang menghancurkan segalanya.
Baca Juga: Nike Meluncurkan The Rising Gem Pack
Khusus bagi Marselino Ferdinan dan Witan Sulaeman, dua bintang masa depan.
Kritikan rajam, saya menyebutnya demikian, dari berbagai pihak, utamanya dari netizen jangan dijadikan sebagai hukuman atas kegagalan saat menghadapi Uzbekistan dan Irak.
Tapi, semua itu ditumpahkan karena rasa cinta mereka yang begitu rupa.
Setiap rasa cinta yang berlebihan, jika tidak sesuai dengan harapan, maka kekecewaan bisa tumpah berhamburan. Itulah yang terjadi. Maka, jadikanlah semua sebagai itu pelajaran.
Perlahan-lahan, ingat dan resapi. Jika dalam dua laga terakhir, Marselino dan Witan seperti 'bermain sendiri,' segera sadari dan sikapi.
Semua mata, seolah hanya tertuju pada mereka berdua. Ya, begitulah resikonya jadi yang terkemuka.
Baca Juga: Naseem Hamed Kembali ke Ring, Alasannya Diluar Dugaan
Jadikanlah lagi ini sebagai kesempatan bagi Marselino dan Witan untuk memperbaiki diri. Jangan justru makin terkunci.
Terus cermati dan terus tingkatkan kekuatan. Hanya dengan itu semua harapan bisa didapatkan. Sebagai pemain muda, kisah ini harus bisa dijadikan pelajaran.
Tetap semangat Garuda Muda. Terbanglah dengan gagah perkasa ...
Artikel Terkait
Timnas U-23 Indonesia Otomatis Lolos Olimpiade 2024 karena Guinea Mundur, Apakah Benar?
Meski Kecapekan Jelang Lawan Guinea, Timnas U-23 Indonesia Tetap Yakin Lolos ke Olimpiade 2024
Catat Nih, Spek Motor MotoGP 2027: Pangkas Kapasitas Mesin dan Batasi Top Speed
Disindir Erick Thohir Sepak Bola Bukan Permainan 2 Orang, Marselino Ferdinan Balas: Hahahaha Negara Lucu
IBL Cerminan Kemajuan Sportainment Indonesia