Mencoba Meluruskan Saja, Anjas Asmara: Jepang dan Korea, Kami yang Mengajari

Suryansyah, Sportlink News
- Sabtu, 11 Mei 2024 | 17:30 WIB
M. Nigara, sepak bola itu jelas ukurannya, Multi event, Olimpiade dan Single event, Piala Dunia.  (sportlinknews)
M. Nigara, sepak bola itu jelas ukurannya, Multi event, Olimpiade dan Single event, Piala Dunia. (sportlinknews)

 

  • Catatan Sepak Bola
    M. Nigara
    Wartawan Sepak Bola Senior

SportlinkNews - Tanpa menggugurkan rasa hormat dan bangga saya sedikit pun, pada Gareng (Sutjipto Suntoro), (Iswadi Idris), Gayeng (Risdianto), Papi (Yudo Hadianto), Amrai (Ronny Paslah), Djunaedi Abdillah, STN (Sutan Harhara), Anjas Asmara, Ronny Patti, Herry Kiswanto dan seluruh penggawa nasional hingga era sebelum Shin Tae-yong, saya terpanggil untuk meluruskan.

Ini penting agar anak-anak era milenial saat ini tidak salah menyikapi sejarah sepak bola Indonesia.

Anjas Asmara, salah seorang bintang nasional 1970-80an, dalam satu acara di televisi mengatakan: "Lima puluh tahun lalu, kita berjaya. Jepang dan Korea kita yang mengajari sepak bola," begitu katanya.

Baca Juga: Suporter Masih Belum Terima Timnas U-23 Indonesia Dikadali Wasit, Arya Mahendra: Stop Rasis

Benarkah begitu?
Saya tidak akan menjawab, tetapi saya hanya akan memaparkan fakta yang ada.

Begini, sepak bola itu jelas ukurannya. Multi event, Olimpiade dan Single event, Piala Dunia. Di tingkat yang lebih bawah, Asian Games dan Piala Asia. Saya tidak memasukkan SEA Games dan AFF, karena menurut hemat saya kurang pas.

Jadi, sepanjang satu negara belum pernah tampil di empat event tersebut, maka, suka atau tidak, belum bisa kita sebut berjaya. Lalu, apakah hasil uji coba dalam laga single atau turnamen, bisa kita sebut berjaya?

Baca Juga: Nonton Bareng Presiden FIFA, Begini Kata Erick Thohir Usai Timnas Kalah dari Guinea

Harusnya tidak. Tetapi, jika ada yang menyebut hasil-hasil itu adalah sebuah prestasi, ya boleh-boleh saja. Tapi, jika hasil itu disebut sebagai kejayaan, rasanya kurang tepat.

Lalu, benarkah apa yang dikatakan Anjas Asmara? Sekali lagi, mungkin itu hanya menandakan rasa kesal anak Medan ini. Pasti tidak bermaksud sungguh-sungguh mengatakan bahwa Jepang dan Korsel, kita yang mengajari mereka bermain bola.

Dari kelahiran federasi atau asosiasi, JFA (Japan Football Association) lahir 1921 dan langsung bergabung dengan FIFA.

Baca Juga: Rekomendasi dan Tips Olahraga untuk Lansia, Jaga Kesehatan di Usia Senja

Korea Selatan KFA (Korea Football Association) berdiri 1933 dan 15 tahun kemudian, tepat 1948 bergabung ke FIFA.

Halaman:

Editor: Suryansyah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X