Saya sebagai wartawan hanya sebatas membuat evaluasi. Jujur pula, ini sangat penting. Dan, harus didasari dengan perhitungan yang cermat. Bukan didasari dengan kebencian.
Suka atau tidak, STY dan tim, sudah menghasilkan sesuatu yang belum pernah dicapai oleh PSSI sebelum ini. Bahwa STY khususnya dan tim pada umumnya masih memiliki kekurangan, itu dasar dan basis evaluasi saya.
Pertama, hingga saat ini STY dan tim belum berhasil menemukan pemain yang memiliki naluri dan kemampuan mencetak gol. Kalau pun selama ini tim mampu mencetak gol, menurut hemat saya, sporadis saja. Rafael Struick dan Ragnar Oratmangoen, bukan pemain yang masuk dalam kategori itu.
Baca Juga: Dijegal Samurai Biru, Erick Thohir: Ini Jadi Tanggung Jawab Saya!
Jadi, jika pemain yang seperti itu belum juga ditemukan, maka kesulitan demi kesulitan akan terus dihadapi.
Kedua, lebih dari 70 persen, awak timnas kita berasal dari Eropa, khususnya warga keturunan yang lahir dan besar di negeri Kincir Angin. Pemain-pemain itu juga berkarya di negeri yang sempat menjajah kita.
Mereka semuanya dipilih oleh STY dan disetujui oleh PSSI. Secara teori, pasti ada gap di sana. Satu di antaranya kebudayaan dan kebiasaan yang jauh berbeda. Apalagi STY punya kendala bahasa.
Baca Juga: Meski Kalah dari Jepang, Timnas Indonesia Banjir Dukungan di Media Sosial
Artinya, banyak soalan yang disampaikan, terpaksa melewati jalan memutar. Dengan begitu, sangat sulit STY memberi motivasi khusus untuk para pemain.
Jadi, kita tak punya pilihan lain kecuali mencari dengan sungguh-sungguh bomber-bomber yang mampu membuat gol dan haus gol.
Dulu kita punya Sutjipto Suntoro, Syamsul Arifin, Bambang Nurdiansyah, dan Ricky Yakob. Meski capaian timnas kita hanya di situ, tidak mampu meraih gelar resmi di tingkat Asia, kelas keempatnya sebagai bomber, sungguh sangat tinggi.
Baca Juga: Arab Saudi Hadapi Indonesia di Jakarta dengan Skuad Pincang, 2 Pemain Kunci Cedera
Begitu juga soal komunikasi dan motivasi khusus pada para pemain, PSSI perlu memikirkan mencari pendamping STY dari Belanda.
Dua langkah itu Insya Allah akan membuat timnas kita sungguh-sungguh beda. Tanpa keduanya, saya mulai khawatir akan perjalanan tim kita ke Piapa Dunia 2026.
Sekali lagi, betul kita kalah telak 4-0 dari Jepang. Betul kita marah dan kecewa. Tapi, dunia belum 'kiamat'. Harapan di laga, Selasa 19/11/2024 vs Arab Saudi masih tetap terbuka.
Artikel Terkait
Real Madrid World, Taman Hiburan Klub Sepak Bola Pertama di Dunia Luasnya Enam Kali Santiago Bernabeu
Cristiano Ronaldo Cetak Gol Salto Spektakuler, Salah Satu Terbaik dalam Kariernya?
FIFA Kenalkan Trofi Piala Dunia Antarklub 2025 yang Dilapisi Emas 24 Karat
Duel Mike Tyson vs Jake Paul, Perlawanan Sang Legenda Berakhir dengan Penilaian Juri
Ganda Putra Fajar/Rian Lolos ke Final Kumamoto Masters 2024, Siap Hadapi Ganda Jepang