sepak-bola

LALIGA dan Indonesia Bersatu Lawan Pembajakan Audiovisual dengan AI dan Big Data

Rabu, 26 Februari 2025 | 20:33 WIB
Ketua Tim Kerja Analis Hukum dan Penyidik KI DJKI, Rikson Sitorus di acara LALIGA ExtraTime "Inovasi Teknologi Olahraga & Anti Pembajakan Audiovisual", mengatakan jika pembajakan di Indonesia tinggi.

SportlinkNews - Penerapan teknologi dalam perkembangan sepak bola modern dinilai LALIGA penting. Sebagai bagian dari memerangi penyiaran ilegal yang kini banyak terjadi di sepak bola.

Mengenai kondisi pembajakan audiovisual di Indonesia saat ini, Ketua Tim Kerja Analis Hukum dan Penyidik KI DJKI, Rikson Sitorus dalam acara LALIGA ExtraTime "Inovasi Teknologi Olahraga dan Anti Pembajakan Audiovisual", di Jakarta, Rabu, 26 Februari 2025, mengatakan cukup tinggi nilainya.

Kendati belum ada jumlah pasti, tetapi sesuai data Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) pembajakan audiovisul tersebut telah merugikan negara sebesar Rp1 triliun akibat pelanggaran hak cipta.

Baca Juga: Red Sparks Makin Meradang, Park Eun jin Merintih Susul Bukilic yang Tumbang

Itu baru di Jakarta, dengan jumlah pelanggaran mencapai 2,1 juta.

Bahkan hingga Juli 2019, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah memblokir lebih dari 1.000 situs yang melanggar hak cipta terkait pembajakan audiovisual ilegal di Indonesia.

"Sebab bagi yang melanggar akan terkena Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta, di mana pada Pasal 25 ayat (3) menyatakan bahwa setiap orang dilarang melakukan penyebaran konten siaran tanpa izin untuk tujuan komersial," ucapnya.

Pelanggaran seperti itu dapat berujung pada pidana penjara hingga 4 tahun dan/atau denda maksimal Rp 1.000.000.000,00.

Baca Juga: Kasus Selebrasi Beckham Putra: Persib Ajukan 3 Opsi ke Komisi Banding PSSI

Namun sayangnya, dibandingkan di Spanyol yang telah menangkap lebih dari 200 streaming bajakan, jumlah penangkapan di Indonesai masih sangat sedikit.

Sayangnya, ada berbagai tantangan yang harus dilewati untuk bisa menindak lanjut pelanggaran tersebut. Hal itu, ujar Rikson dikarenakan format yang diterapkan di Indonesia sangat berbeda dengan di Spanyol.

Di Indonesia, penanganan/penangkapan bisa dilakukan berdasarkan pengaduan. "Bila tidak ada aduan, maka pihak kami tidak bisa beraksi melakukan penindakkan," tambahnya.

LALIGA melalui kegiatan "ExtraTime" ini mengajak stakeholder sepak bola di Indonesia juga turut mengoptimalkan penggunaan big data dari AI untuk efisiensi.

Baca Juga: MotoGP Thailand 2025 Siap Digelar, Marc Marquez dan Francesco Bagnaia Sama-sama Pernah Menang di Sirkuit Chang

Penggunaan teknologi canggih seperti Tyche 3.0 untuk pemantauan pertandingan, lalu Blackhole, Marauder, dan Lumière untuk melawan pembajakan ilegal.

Dalam industri penyiaran, selain melawan pembajakan, LALIGA juga berfokus pada peningkatan kualitas siaran.

Seperti pengembangan kamera sinematik, FanCam, SkyCam, drone, dan kamera taktis untuk memberikan pengalaman menonton pertandingan sepak bola yang berbeda dibandingkan dengan kompetisi lainnya.

Baca Juga: Megawati Tak Berkutik Tanpa Bukilic, Red Sparks Keok Lagi

Musim ini, LALIGA kembali menarik perhatian dengan peluncuran Alex, influencer sepak bola virtual pertama yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang juga turut diperkenalkan di acara ini.

Representasi LALIGA di Indonesia, Almudena Gómez, mengatakan bahwa tema LALIGA ExtraTime kali ini sangat relevan untuk pengembangan sepak bola di Indonesia terutama dalam perlindungan hak cipta serta teknologi untuk daya saing dan sepak bola usia muda.

"Kami ingin menekankan pentingnya dua industri besar, teknologi dan sepak bola," tukasnya.

Baca Juga: Mikel Arteta: Langkahi Mayat Saya, Kami Tidak akan Berhenti Berjuang!

"Di LALIGA, kami meyakini bahwa liga dan klub yang mendukung perubahan teknologi, serta mampu memahami peluang yang ada, baik dari sisi teknologi maupun perilaku pengguna, akan menjadi pemimpin dalam industri olahraga," ujar Almudena lagi.

Sebaliknya, jika tidak bisa memanfaatkan perubahan teknologi dan mengoptimalkannya maka kompetisi di Indonesia dinilai akan tertinggal.

Tags

Terkini