SportlinkNews - Gelaran Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada diprediksi menghadirkan tantangan berat bagi para pemain.
Suhu panas ekstrem di beberapa kota tuan rumah dikhawatirkan dapat membahayakan kesehatan para pemain yang berlaga.
Kekhawatiran ini bukanlah hal baru.
Baca Juga: Kemenangan PSS Sleman atas Persita Bawa Angin Segar, Riko Simanjuntak Berharap Konsistensi Tim
Tiga dekade lalu, ketika Amerika Serikat menjadi tuan rumah Piala Dunia 1994, kondisi cuaca yang panas sudah menjadi sorotan.
Bahkan, salah satu juru bicara ajang tersebut yang dikutip oleh The Guardian kala itu sempat menyatakan bahwa jurnalis memprediksi pemain bisa meninggal akibat suhu tinggi di lapangan.
Kini, situasi semakin pelik seiring dengan perubahan iklim yang menyebabkan suhu bumi meningkat drastis.
Baca Juga: Gustavo Almeida: Melawan Arema FC Bukan Laga yang Spesial
Dengan jumlah pertandingan yang bertambah menjadi 104 laga, dampak suhu ekstrem diperkirakan akan semakin terasa bagi para pemain yang berlaga di ajang sepak bola terbesar ini.
Berdasarkan laporan The Guardian, 14 dari 16 kota tuan rumah Piala Dunia 2026 diprediksi akan mengalami suhu siang hari yang cukup tinggi hingga membahayakan pemain.
FIFA sebelumnya pernah menghadapi tantangan serupa dalam Piala Dunia 2022 di Qatar.
Baca Juga: Hadapi Malut United FC, PS Barito Putera Bakal Main Agresif
Demi menghindari suhu panas ekstrem di gurun, FIFA menggeser jadwal turnamen ke bulan November-Desember, sehingga para pemain bertanding dalam kondisi yang lebih bersahabat.
Namun, situasi di Piala Dunia 2026 kemungkinan tidak bisa dihindari dengan perubahan jadwal seperti di Qatar.