"Inisiasi ini berawal dari antusiasme masyarakat terhadap gelaran MLSC di Kudus. Kami melihat banyak guru olahraga yang belum memiliki pelatihan formal dalam melatih sepak bola. Karena itu, kami berkoordinasi dengan PSSI dan Asprov Jateng untuk mengadakan kursus lisensi D," ujar Program Director MilkLife Soccer Challenge, Teddy Tjahjono seusai rilisnya.
"Harapannya, ini bisa menjadi pijakan awal bagi lahirnya lebih banyak pelatih berkualitas," tambahnya lagi.
Teddy menjelaskan bahwa lisensi ini tidak hanya memberi bekal teknis kepada para pelatih, tetapi juga menjadi langkah nyata mendukung perkembangan sepak bola usia dini dan sepak bola putri di Indonesia.
Baca Juga: Menang di Mandalika, Fermin Aldeguer Catat Rekor sebagai Pembalap Termuda yang Memenangkan Balap MotoGP
"Kami berharap para pelatih dapat menularkan ilmu yang diperoleh kepada anak didiknya. Semakin banyak pelatih berlisensi, ekosistem sepak bola daerah akan berkembang lebih sehat dan berkelanjutan," tambahnya.
Kegiatan sertifikasi ini mencakup dua tahapan utama, teori dan praktik.
Dalam sesi teori, peserta mempelajari berbagai materi seperti filosofi sepak bola Indonesia (Filanesia), prinsip bertahan dan menyerang, fase akuisisi skill, hingga game management.
Baca Juga: 3000 Atlet Bertarung di Pugnator Yogyakarta Taekwondo International Championship 2025
Sedangkan pada sesi praktik, mereka langsung menerapkan ilmu yang diajarkan di lapangan bersama sejumlah atlet yang berperan sebagai pemain peraga.
Materi praktik meliputi passing & first touch, dribbling & running with the ball, attacking build up, defending high press, prevent goal, hingga football conditioning 11v11.
Hanafing turut didampingi dua asisten, Yayat R. Hidayat dan Pamungkas Yuli Kurniawan, sepanjang kegiatan berlangsung.
Baca Juga: Kluivert Waspadai Arab Saudi, Timnas Indonesia Fokus Jaga Kondisi di Jeddah
Coach Hanafing menegaskan pentingnya sertifikasi ini untuk menyiapkan pelatih yang kompeten di level akar rumput.
"Lisensi D adalah pintu masuk bagi siapa pun yang ingin serius berkarier di dunia kepelatihan sepak bola. Melalui kursus ini, peserta dibekali pondasi dasar sesuai standar PSSI. Pelatih hebat akan melahirkan pemain hebat," ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya penguasaan enam teknik dasar untuk melatih anak usia dini: passing, control, dribbling, running with the ball, heading, dan scoring.
Baca Juga: Ole Romeny dan Maarten Paes Pulih, Timnas Indonesia Dapat Angin Segar di Jeddah
Menariknya, pelatihan yang umumnya memerlukan biaya hingga Rp3 juta, kali ini hanya dikenakan biaya Rp750 ribu, sebagai bentuk dukungan agar semakin banyak pelatih dan guru olahraga di Kudus dapat meningkatkan kompetensinya.
Salah satu peserta, Just Nurkha Habibi, guru olahraga SD Muhammadiyah Birrul Walidain Kudus, mengaku sangat terbantu dengan program ini.
"Biasanya biaya lisensi sangat mahal dan sulit dijangkau. Kalau ini, harga terjangkau untuk ilmu yang sangat mahal. Kami belajar langsung dari instruktur PSSI dan dapat banyak masukan untuk diterapkan ke anak-anak. Harapannya, program ini bisa berlanjut ke lisensi C," ungkapnya.
Baca Juga: Arne Slot Akui Mohamed Salah Kehilangan Ketajamannya Saat Melawan Chelsea
Melalui kegiatan ini, Bakti Olahraga Djarum Foundation dan MilkLife berharap Kudus dapat menjadi contoh daerah yang aktif membina pelatih sepak bola usia dini sekaligus melahirkan generasi pesepak bola yang lebih terarah dan berkarakter.