STY terus dan terus memperkuat timnya dengan pemain-pemain pilihannya. STY juga bukan typologi pelatih yang mudah percaya pada seorang pemain dalam satu posisi.
Saya jadi teringat Rinus Michels, pelatih legendaris asal Belanda. Tahun 1974, Michels menciptakan total football di mana setiap pemain berada dan bertugas dalam berbagai posisi.
Saat itu Johan Cruyff, Johan Neeskens, Johny Reeb, Wim Yansens, dkk mampu menggetarkan dunia, meski di final mereka kalah 1-2 dari Jerman Barat.
Nah, STY mirip seperti itu, meski tidak menerapkan total football. Bukti konkretnya, STY tidak pernah baku dengan starting eleven. Menurut hemat saya, dengan begitu, lawan akan sulit memprediksi kekuatan timnas kita. Lalu yang lebih hebat lagi, setiap pemain harus selalu siap untuk ditempatkan di posisi mana pun.
Maka, tak heran jika: Ernando Ari, Rizky Ridho, Pratama Arhan, Marselino Ferdinan, Ramadhan Sananta, Fajar Fathur Rahman, Hoky Caraka, Muhammad Ferrari, Arkhan Fikri, Rafael Struick, Ivar Jenner, Justin Hubner, dapat bermain di berbagai posisi. Memang tidak terlalu ekstrim, namun STY tidak pernah kesulitan jika 1-2 pemain berhalangan. Dan semua pemain bisa jadi pemain inti.
Baca Juga: Vietnam Dihajar Irak, Timnas U-23 Indonesia Jadi Satu-satunya Wakil ASEAN di Piala Asia U-23 2024
"STY pasti telah memiliki pengganti yang kelasnya tidak jomplang," kata Kombes Pol Sumardji, manajer timnas Merah-Putih, ketika ditanya Elshinta soal Rafael Struick yang tidak bisa main karena akumulasi kartu kuning.
Ini juga yang saya lihat sebagai kelebihan STY. Dulu, pemain inti dengan pemain pengganti, gap-nya terlalu jauh. Akibatnya begitu pemain utama berhalangan, kekuatan timnas jadi timpang.
Di samping itu, STY juga memiliki program yang jelas untuk meningkatkan kebugaran. Sepanjang sejarah, setidak sejak 1981 ketika saya melekat dengan tim nasional, kebugaran adalah kendala lain selain mental. Tidak banyak pemain kita yang bisa bermain 90 menit.
Baca Juga: Adidas Jatuhkan Predator 94 Edisi Terbatas
"Rata-rata hanya mampu 30-40 menit," kata Maulwi Saelan, mantan Ketum PSSI 1964-67 dalam satu wawancara saya, 1990an.
Satu-satunya timnas Indonesia yang memiliki kekuatan fisik, dan sukses merebut emas SEA Games 1991, Manila, saat ditangani Anatoli Polosin, pelatih asal Soviet.
Polisin yang didampingi Danurwindo, melatih fisik pemain ekstra keras. Itu saja Polosin diserang oleh para pelstih lokal. "Pelatih bola kok melatih lari," begitu serangan mereka.
Bantuan Pemerintah
Sekarang berbeda. Berkat bantuan pemerintah untuk tempat, fasilitas, dan asupan yang luar biasa, maka STY memiliki timnas yang baik.