SportlinkNews - Manchester United, salah satu klub sepak bola dengan nilai dan sejarah prestisius, tengah menghadapi perubahan signifikan di bawah kepemilikan baru.
Setelah pengambilalihan saham minoritas oleh Sir Jim Ratcliffe dari keluarga Glazer, manajemen klub mulai menerapkan sejumlah langkah penghematan yang menuai kontroversi.
Sejak Sir Jim Ratcliffe dan konsorsiumnya mengambil alih sebagian kepemilikan Manchester United, mereka mengimplementasikan strategi-strategi penghematan untuk mengurangi biaya operasional.
Baca Juga: Tumbangkan Ganda Cina Duet Baru Fikri/Daniel Lolos ke Semifinal Japan Open 2024
Salah satu langkah pertama yang diambil adalah pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap staf.
Dilaporkan bahwa sekitar 250 dari total 1.100 karyawan di kantor klub dipecat sebagai bagian dari upaya mengurangi pengeluaran.
Keputusan untuk melakukan PHK massal ini tidak hanya berdampak pada para karyawan yang kehilangan pekerjaan, tetapi juga menimbulkan ketidaknyamanan di antara yang tersisa.
Baca Juga: Beri Pembekalan, Ketum KONI Pusat Tegaskan Jajarannya Harus Siap Sukseskan PON XXI Aceh-Sumut 2024
Sebagai contoh, kebijakan baru mengharuskan semua karyawan untuk kembali bekerja di kantor, menghapus kebijakan kerja dari rumah (WFH) yang sebelumnya diterapkan.
Ratcliffe dan tim manajernya menilai bahwa bekerja dari rumah menambah biaya yang tidak perlu, yang mengarah pada keputusan ini.
Namun, kebijakan tersebut menuai protes dari staf karena kantor Manchester United dianggap sangat sempit.
Baca Juga: Pelatih Persebaya Paul Munster Buka Peluang Winger Malik Risaldi Turun Main Lawan Barito
Beberapa karyawan mengeluhkan bahwa kantor yang sempit memaksa mereka untuk makan siang di area yang tidak nyaman, seperti dekat toilet.
"Mereka menyiapkan meja makan di sebelah empat bilik toilet," kata seorang pekerja.