Tidak hanya itu, saat memperebutkan peringkat ketiga, Brasil juga kalah telak dari Belanda, 3-0.
Kala itu, tak ada orang Brasil yang tak marah. Bahkan, tak sedikit orang non-Brasil yang ikut kecewa.
Tapi, sepak bola Brasil tidak padam. Gagal di Piala Dunia juga bukan yang pertama, namun kehidupan sepak bola di negeri Samba itu tetap terus berjalan, meski hingga hari ini Brasil belum bisa kembali menjadi juara dunia.
Baca Juga: Jepang Semakin Kokoh di Puncak Klasemen Grup C Kualifikasi Piala Dunia 2026
Kita, memang bukan Brasil. Dari segi apa pun, jauh dari Brasil. Untuk itu, Brasil saja tidak kiamat, mengapa kita harus menamatkan diri? Mengapa seolah-olah kekelahan yang memang menyakitkan itu harus menghapus seluruh mimpi? Menutup semua harapan?
Finishing
Seorang sahabat mengirimkan gambar dari (11/8/1968) saat timnas kita membantai Jepang 7-0. Mas Gareng (Sutjioto Suntoro) membuat heatrick, Yakob Sihasale mencetak dua gol awal, kemudian Abdul Kadir, dan Surya Lesmana masing-masing mencetak satu gol.
Jauh sebelum itu, di Asian Games III, Tokyo, kita pun menang 4-3 atas Jepang. Tapi, jika ditotal secata keseluruhan, lebih banyak kita kalah.
Baca Juga: Shin Tae-yong Tegaskan Bukan Waktunya untuk Menyerah Meski Kalah dari Jepang
Tiga kekalahan terbesar kita; 0-6 (10/8/1968) Merdeka Games, 0-4 (31/5/1978) Piala Jepang, dan 0-5 di Kualifikasi Piala Dunia 1990, di Tokyo (11/6/1989). Khusus laga ketiga ini, saya bersama beberapa sahabat, satu di antaranya Eddy Lahengko, meilput langsung ke Tokyo.
Sahabat lain melemparkan tanya dan selintas analisa: "Saya masih mikir, apakah pemain yang bagus-bagus saat main di Eropa, masih cocok dilatih oleh pelatih Asia?" tanyanya lewat WA.
"Pak MN (inisial saya saat masih di Kompas) yang sudah malang-melintang di persebakbolaan nasional, regional bahkan Internasional yang bisa menjawab itu!" tulisnya.
Jujur pertanyaan dan analisa yang tidak mudah untuk dijawab. Saya termasuk pengamat yang ingin STY dipertahankan. Sejak PSSI lahir, 19 April 1930, belum sekalipun kita bisa ikut Piala Asia di tiga level.
Saat ini, timnas U17, U20, dan Senior sudah lolos ke pesta sepak bola Asia itu. Catatan: Tahun 1961, timnas yunior kita sempat meraih tiket juara bersama Burma (Myanmar, sekarang). Saat itu, kelompok umur hanya ada dua senior dan yumior.
Tapi, saat ini, saya mulai goyah. Namun tidak otomatis mengatakan STYout, tidak. Mempertahankan atau mengganti STY, mutlak hak PSSI.