Jika dibandingkan, rekam jejak Pastoor sebagai pelatih jauh lebih kaya dibandingkan Kluivert.
Baca Juga: Gunakan Sistem Home and Away, Ini Lokasi Home Arena 14 Kontestan IBL GoPay 2025
Kluivert sendiri tercatat hanya memimpin 46 pertandingan bersama FC Twente U-21 pada 2012-2013 dan beberapa pertandingan singkat dengan Curacao serta Adana Demirspor.
Hal ini memunculkan spekulasi bahwa Pastoor bisa menjadi otak di balik strategi timnas Indonesia, sementara Kluivert berperan sebagai manajer yang memimpin keseluruhan.
Denny Landzaat, di sisi lain, memiliki latar belakang yang unik. Selain kemampuannya memahami budaya Indonesia, ia memiliki pengalaman sebagai asisten pelatih di beberapa klub Eropa dan Timur Tengah.
Baca Juga: Persis Solo Bakal Diperkuat Bek Brasil di Putaran Kedua Liga 1 2024/2025
Landzaat pernah bekerja dengan pelatih-pelatih top seperti John van den Brom di Al-Taawoun dan Lech Poznan serta Pascal Jansen di Ferencvaros.
Peran Landzaat dalam timnas Indonesia tidak hanya sebagai pendukung Kluivert dalam aspek teknis, tetapi juga sebagai penghubung yang memahami budaya lokal.
Ini diharapkan dapat membantu timnas lebih mudah beradaptasi dengan strategi baru yang diusung.
Baca Juga: Shin Tae-yong Dipecat, Begini Reaksi Liga Indonesia
Selain perannya sebagai pelatih, Kluivert juga diharapkan dapat membantu PSSI dalam merekrut pemain diaspora.
Arya Sinulingga, perwakilan PSSI, menyebutkan bahwa Kluivert memiliki kemampuan untuk melobi pemain-pemain diaspora yang selama ini sulit dibujuk bergabung dengan timnas Indonesia.
"Dengan pelatih sekelas Kluivert, kami berharap dia bisa menarik perhatian pemain diaspora untuk membela timnas Indonesia," ujar Arya, seperti dikutip dari Kompas TV.
Kombinasi pengalaman Pastoor, kemampuan adaptasi Landzaat, dan jaringan Kluivert memberikan harapan baru bagi timnas Indonesia.
Dengan kolaborasi ini, skuad Garuda diharapkan mampu bersaing di level Asia dan memaksimalkan potensi mereka di kancah internasional.***