Cerita yang awalnya dimaksudkan untuk desain tersebut tetap ada—hubungannya dengan Cincinnati memang sudah dimaksudkan, dan kotaknya memiliki detail Valentine—tetapi ada sesuatu yang lebih personal pada sepatu kets tersebut.
Jika karya Lipschutz sebelumnya dengan Adidas memberi penghormatan kepada mendiang saudara perempuan dan neneknya, karya terbarunya lebih bersifat otobiografi.
Baca Juga: Media Brasil Menghakimi Penampilan Andre saat Digeruduk Argentina 4-1
Sepatu kets tersebut mengingatkan sebagian sejarah Lipschutz sendiri. Salah satu nama panggilannya saat kecil adalah Pork Chop.
Siaran persnya untuk sepatu tersebut menjelaskan bahwa sepatu itu ditujukan bagi siapa saja yang tumbuh sebagai "babi kecil yang diragukan semua orang—terlalu lumpuh, miskin, jelek, pendek."
Lipschutz pernah mengalami hal itu. Ia mengatakan bahwa ia adalah anak yang didorong dan disikut di sekolah.
Ia mengenakan kaus Korn dan mengecat rambutnya menjadi oranye, sehingga ia dianggap sebagai peniru. Ia harus naik angkutan umum ke sekolah, sehingga ia diejek karena tidak memiliki alat transportasi sendiri.
Baca Juga: Periodisasi Pelatihan dan Ilmu Olahraga
"Banyak dari kami yang diolok-olok karena harus naik bus kota," kata Lipschutz.
Untuk sepatu kets terbarunya, ia memutuskan untuk mengambil alih jalur bus lokal, jenis yang membuatnya malu karena menaikinya beberapa dekade lalu.
Pada bulan Maret, Unheardof membungkus sebuah bus kota di Cincinnati dengan grafis yang menampilkan sepatu Adidas dan mengirim maskot Pork Chop yang mengenakan kostum babi untuk menaiki rute tersebut dengan sepatu kets di kakinya. Itu adalah pesan penting yang ingin disampaikan Lipschutz.
Baca Juga: Media Vietnam Tulis Kemenangan Dramatis Timnas Indonesia, Selangkah Menuju Piala Dunia
“Anda tahu, Anda sedang naik bus kota sekarang atau Anda harus makan makanan pemerintah sekarang,” katanya, “tetapi teruslah berjuang, teruslah berjuang, teruslah bekerja keras. Itu akan membuahkan hasil.”