- Peralatan pemantauan canggih: Pengukur daya, pelat gaya, sistem pelacakan RFID, platform pengaturan waktu canggih, dan teknologi pelacakan optik semuanya telah hadir, tidak hanya di pusat pelatihan Olimpiade, tetapi kini juga di perguruan tinggi, sekolah menengah atas, dan ruang keluarga.
Peralatan ini menyediakan sumber data baru untuk menangkap, menganalisis, dan mendorong pengambilan keputusan.
Baca Juga: Mengenal Hamdani Tomagola, Peraih Emas SEA Games yang Terlupakan
- Pemasaran olahraga: Profesional pemasaran olahraga masa kini harus memiliki kompetensi tingkat lanjut di berbagai bidang, termasuk: desain web, perangkat media sosial, pemasaran email, analisis metrik, dan berbagai platform khusus tugas.
- Kecerdasan buatan (AI) dan pembelajaran mesin: Analisis data menyentuh hampir semua bidang olahraga dengan satu atau lain cara saat ini. Tapi praktisi olahraga semakin banyak yang menjadi subjek atau secara langsung menggunakan pembelajaran mesin dan alat AI saat memprediksi hasil pertandingan, membuat keputusan pemasaran, meningkatkan performa, memimpin pertandingan, dan bahkan membuat ringkasan dan cerita pertandingan.
Ini hanyalah beberapa contoh. Untuk mengisi kesenjangan potensial ini, selain kurikulum yang secara langsung membahas bidang-bidang ini, praktisi teknologi informasi olahraga memerlukan pelatihan tambahan di berbagai bidang, termasuk: arsitektur IT, keamanan siber, administrasi basis data, dan desain web.
Baca Juga: Cuma Main 11 Menit, Messi Langsung Cedera Bikin Inter Miami Takut
Mahasiswa yang baru mengenal industri ini juga perlu memiliki kompetensi di bidang performa olahraga, biomekanika, dan pemasaran, di antara bidang-bidang lainnya.
Banyak program sarjana dan pascasarjana manajemen olahraga dan/atau ilmu olahraga mencakup beberapa topik ini, tetapi hanya sedikit, jika ada, yang mencakup semuanya atau mengemasnya dalam konteks teknologi olahraga atau teknologi informasi olahraga.
Bagaimana pendapat industri? Apakah kebutuhan industri terpenuhi?