Bukan Gunung, Rahasia VO2 Max Pelari Elite Ternyata Ada di Kamar Mandi

Muhammad Ridwan, Sportlink News
- Kamis, 26 Maret 2026 | 22:33 WIB
Trail running atau lari lintas alam di dataran tinggi.
Trail running atau lari lintas alam di dataran tinggi.

SportlinkNews - Selama puluhan tahun, para pelari elite dunia telah melintasi berbagai benua demi satu tujuan yakni berlatih di dataran tinggi. Fenomena ini bukan tanpa alasan, sebab ketika kadar oksigen di udara menipis, tubuh manusia akan bereaksi secara alami dengan memproduksi lebih banyak sel darah merah.

Sel-sel inilah yang bertanggung jawab mengangkut oksigen ke seluruh bagian tubuh. Selain itu juga memberikan bahan bakar bagi otot untuk terus bergerak.

Efek magis dari latihan ini baru benar-benar terasa ketika para atlet kembali ke permukaan laut atau dataran rendah. Dengan kapasitas pengangkutan oksigen yang jauh lebih besar, ketahanan fisik mereka meningkat drastis, memungkinkan mereka berlari lebih cepat dan lebih lama dibandingkan sebelumnya. Namun, di balik keunggulannya, latihan di ketinggian menyimpan kendala besar yang sulit ditembus oleh semua orang.

Baca Juga: Jadi Tuan Rumah FIFA Series, Justin Hubner: Indonesia Masih Bisa Berkembang di Pentas Sepak Bola Dunia

Metode konvensional ini menuntut komitmen waktu yang luar biasa, investasi finansial yang sangat besar, hingga keharusan melakukan perjalanan jarak jauh yang melelahkan. Bagi sebagian besar pelari yang kini sedang mempersiapkan diri untuk ajang London Marathon tahun ini, opsi tersebut hampir mustahil untuk diwujudkan. Alasan logistik dan biaya menjadi penghalang utama yang membuat teknik "doping" alami ini hanya bisa dinikmati oleh segelintir atlet profesional.

Kesenjangan inilah yang mendorong kami memulai riset untuk mencari alternatif yang lebih mudah diakses oleh masyarakat luas. Perhatian kami kemudian beralih pada bentuk tekanan lingkungan lain yang selama ini sering dianggap sebagai musuh pelari, yaitu suhu panas. Kami ingin membuktikan apakah panas bisa memberikan efek serupa dengan tipisnya oksigen di pegunungan.

Secara tradisional, para atlet memang sering menggunakan paparan panas dalam jangka pendek, biasanya sekitar tujuh hingga 14 hari. Tujuannya adalah untuk aklimatisasi atau mempersiapkan tubuh agar tidak kaget saat harus bertanding di wilayah beriklim tropis atau panas. Namun, fokus penelitian kami lebih dalam dari sekadar adaptasi suhu sesaat.

Baca Juga: Pertamina Enduro VR46 Racing Team Luncurkan Livery Khusus di Edge at Hudson Yards New York

Demi mengetahui apakah paparan panas jangka panjang, yang dilakukan selama empat hingga lima minggu, mampu memicu perubahan fisiologis yang setara dengan latihan di ketinggian. Untuk mengujinya, sekelompok pelari ketahanan yang sudah terlatih dan meminta mereka tetap menjalankan program latihan rutin seperti biasanya. Satu-satunya variabel tambahan yang kami berikan adalah sesi mandi air hangat sebanyak lima kali dalam seminggu.

Sesi mandi ini dilakukan tanpa peralatan laboratorium yang canggih atau mahal, melainkan cukup menggunakan bak mandi standar yang ada di rumah-rumah pada umumnya. Suhu air dijaga secara konsisten pada angka 40°C dengan bantuan termometer sederhana, di mana air hangat ditambahkan secara berkala jika suhu mulai menurun. Setiap sesi berdurasi 45 menit dan dilakukan segera setelah para pelari menyelesaikan sesi latihan fisik mereka.

Baca Juga: Cetak Gol Spektakuler, Arda Guler Diganjar Gol Terbaik Bulan Maret di LaLiga

Sebelum dan sesudah periode lima minggu tersebut, kami melakukan pengukuran mendalam terhadap berbagai indikator fisiologis ketahanan tubuh. Parameter yang kami pantau meliputi volume sel darah merah, struktur anatomi jantung, hingga ambang VO2max. Sebagai informasi, VO2max adalah standar emas dalam dunia medis olahraga untuk mengukur tingkat kebugaran aerobik seseorang secara akurat.

Hasil yang ditemukan setelah lima minggu rutin berendam air hangat ternyata sangat mengejutkan. Para pelari menunjukkan peningkatan volume sel darah merah yang sangat signifikan dalam sistem peredaran darah mereka. Dengan kata lain, tubuh mereka kini memiliki lebih banyak sel pengangkut oksigen, persis seperti efek yang didapatkan setelah berminggu-minggu berlatih di puncak gunung.

Sekilas, temuan ini mungkin terdengar aneh karena mekanisme pemicunya sangat berbeda. Di dataran tinggi, produksi sel darah merah meningkat karena pasokan oksigen dari udara memang terbatas. Sementara itu, dalam kondisi panas, ketersediaan oksigen di sekitar kita sebenarnya tetap normal dan tidak berkurang sama sekali. Lantas, bagaimana suhu panas bisa memanipulasi tubuh sedemikian rupa?

Halaman:

Editor: Muhammad Ridwan

Sumber: Medical Xpress

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Latihan Sprint Untuk Petinju, Begini Anjurannya

Selasa, 7 April 2026 | 09:50 WIB
X