SportlinkNews - KONI sebagai induk cabang olahraga nasional fokus mengembangkan sport science agar performa atlet lebih mumpuni dan mampu berprestasi dalam berbagai cabang olahraga.
Terkait sport science, Ketum KONI Pusat Letjen TNI Purn Marciano Norman menjalin komunikasi dengan dokter spesialis performa atlet Formula 1 asal Italia, Riccardo Ceccarelli, Kamis 7 Mei 2026.
Dalam pertemuan virtual tersebut membahas penguatan sport science, pengembangan performa, serta penerapan metode pelatihan mental bagi para atlet.
Baca Juga: Robert Lewandowski Mulai Tebar Pesona di Serie A, Juventus Jaga Jarak
Riccardo Ceccarelli merupakan dokter spesialis Kedokteran Olahraga sekaligus pendiri Formula Medicine yang berdiri pada tahun 1989 di Viareggio, Italia.
Namanya dikenal luas di dunia Formula 1 dan Motorsport internasional, karena telah lebih dari tiga dekade menangani berbagai pembalap kelas dunia.
Termasuk juga mengembangkan pendekatan sport science guna meningkatkan performa atlet dibawah tekanan tinggi.
Baca Juga: Jadwal Pertandingan Liga Serie A Pekan ke-36, Napoli Berpeluang Digeser Tim Lain
Dalam paparannya, Riccardo menjelaskan bahwa fokus utama Formula Medicine bukan hanya menangani cedera atau pemulihan atlet, melainkan mengoptimalkan performa mental dan fisik agar atlet mampu tampil maksimal saat kompetisi.
Dijelaskan Riccardo, program yang dikembangkan Formula Medicine meliputi mental training, pelatihan fisik khusus, serta pengaturan nutrisi dan recovery atlet.
Mental training mencakup latihan konsentrasi, pengelolaan stres, visualisasi lintasan, hingga pengambilan keputusan cepat dalam tekanan tinggi melalui metode Mental Economy Training.
Baca Juga: Final Liga Champions: Arsenal Bertemu PSG di Puskas Arena, Stadion Berkapasitas 67.000 Tempat Duduk
Sementara itu, pelatihan fisik difokuskan pada latihan leher, cardio, koordinasi, dan refleks guna menghadapi tekanan G-Force tinggi seperti pada pembalap Formula 1.
Riccardo juga memaparkan konsep Mental Economy Training, yaitu metode yang melatih otak atlet agar bekerja seefisien mesin Formula 1.
Menurutnya, atlet elite mampu mengambil keputusan cepat dalam tekanan tinggi dengan penggunaan energi mental yang minimal.