SportlinkNews - Novak Djokovic kembali berdiri di titik paling krusial dalam perjalanan kariernya.
Pada usia 38 tahun, petenis asal Serbia itu hanya berjarak satu kemenangan dari sejarah terbesar tenis modern, yakni gelar tunggal grand slam ke-25.
Panggungnya kali ini adalah final Australian Open 2026, tempat yang sudah begitu akrab untuknya sejak lebih dari satu dekade lalu.
Baca Juga: Proliga 2026: LavAni Jadi Tim Pertama Lolos Final Four Usai Kalahkan Medan Falcons
Djokovic melangkah ke partai puncak setelah melewati salah satu laga paling dramatis dalam kariernya.
Dalam duel lima set yang berakhir dini hari Sabtu, 31 Januari 2026, waktu Melbourne, ia menumbangkan Jannik Sinner 3–6, 6–3, 4–6, 6–4, 6–4.
Pertandingan yang baru tuntas setelah pukul 03.00 pagi itu menjadi bukti bahwa ketangguhan mental Djokovic masih berada di level tertinggi.
Baca Juga: Piala Asia Futsal 2026: Juara Grup A, Indonesia Dinanti Vietnam di Perempat Final
Tak hanya membalikkan keadaan, Djokovic juga menyelamatkan delapan break point pada set penentuan, sekaligus mengakhiri lima kekalahan beruntun dari Sinner.
Kemenangan tersebut membawanya kembali ke final Australian Open, turnamen yang pertama kali ia menangi pada 2008, untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun di ajang grand slam.
Namun, sorotan utama bukan sekadar tiket final. Angka 25 menjadi simbol ambisi terbesar Djokovic.
Baca Juga: Proliga 2026: Popsivo Polwan Jaga Asa Final Four Usai Menang Telak atas Livin’ Mandiri
Gelar tersebut akan membuatnya melampaui rekor Margaret Court sebagai peraih gelar tunggal grand slam terbanyak sepanjang sejarah tenis, putra maupun putri.
Lebih dari itu, Djokovic juga berpeluang menjadi juara grand slam tertua, sebuah pencapaian yang kian menegaskan statusnya sebagai salah satu atlet paling kompetitif sepanjang masa.
Perjalanan Djokovic menuju titik ini juga mencerminkan transformasi kariernya. Dua dekade lalu, ia adalah pengejar. Memburu kejayaan yang kala itu dikuasai Roger Federer dan Rafael Nadal.
Baca Juga: Persib Bandung Tarik Pulang Dedi Kusnandar dari Bhayangkara FC
Kini, di usia yang nyaris 39 tahun, ia kembali menjadi pengejar, tetapi dengan konteks berbeda, yaitu mempertahankan standar yang ia ciptakan sendiri, di tengah generasi baru yang jauh lebih muda.
Final Australian Open 2026, Minggu malam, 1 Februari waktu setempat, akan mempertemukannya dengan Carlos Alcaraz. Rival lintas generasi yang tengah memburu Career Grand Slam.
Dari rekor pertemuan, sementara Djokovic unggul tipis 5-4, termasuk kemenangan atas Alcaraz di Melbourne tahun lalu, yang menjadi salah satu momen terbaiknya sepanjang 2025.
Baca Juga: Eks Bomber Timnas Brasil U-23, Clayton Perkuat Persis Solo
Pengalaman juga menjadi modal penting Djokovic. Saat sejarah berada di depan mata, ia kerap tampil tanpa kompromi.
Hal itu terbukti pada final Olimpiade Paris 2024, ketika ia mengalahkan Alcaraz untuk merebut medali emas, satu-satunya trofi besar yang sempat luput dari koleksinya.
Di sisi lain, Alcaraz datang dengan keuntungan fisik dan waktu pemulihan lebih panjang.
Baca Juga: Persipura Persembahkan Kemenangan untuk Mettu Dwaramury, Owen Rahadiyan: Kami Fokus di Papan Atas
Petenis Spanyol berusia 23 tahun itu juga melewati semifinal lima set dan pernah menaklukkan Djokovic di US Open 2025. Perbedaan usia 15 tahun menjadi kontras tajam yang akan mewarnai laga puncak.
Kini, segalanya bermuara pada satu pertandingan puncak. Jika Djokovic menang, sejarah akan tercipta. Bila tidak, maka babak penting lainnya akan tertulis dalam rivaliats antar generasi tersebut.