Tapi, angka-angka itu cuma statistik. Masih bisa diutak atik. Sepak bola Indonesia telah berubah. Karakter permainan maupun mental pemain di lapangan.
Pemain naturalisasi memberi warna berbeda. Jay Idzes - yang merumput di Serie A- menjelma seperti Benteng Vredeburh warisan Belanda di Yogyakarta.
Justin Hubner - yang memiliki DNA Makassar dan Bandung - seperti Benteng Ujung Pandang yang kokoh. Kolaborasinya Idzes dan Hubner dengan produk lokal Rizky Ridho terbukti efektik.
Baca Juga: Gagal Gabung Timnas Indonesia, Emil Audero Sampaikan Pesan Dukungan
Ketiganya bisa saling mengisi. Mereka sudah sehati. Komposisi ini dikenal dengan trio JIR. Mereka menjadi benteng pertahanan yang solid. Sering mencatat clean sheet. Doa 200 juta pecinta sepak bola Indonesia menambah adrenalin kekuatan mereka.
Kepercayaan diri Jay Idzes dan kawan-kawan semakin menguat berkat pekikan suporter setia dari pelosok negeri.
Bahrain dan China ditaklukkan dalam laga krusial di babak ketiga. Hanya Australia yang pulang dengan membawa pulang satu poin.
Di sayap kita juga punya pemain level Eropa. Calvin Verdonk yang bermain di Lille dan Kevin Diks (Borussia Monchengladbach).
Baca Juga: Timnas Indonesia Punya Alasan Percaya Diri untuk Taklukkan Arab Saudi
Sang profesor Thom Haye juga punya visi sepak bola. Duet dengan Ricky Kambuaya mampu menghidupkan irama permainan.
Meski Thom Haye berusia 30 tahun, ia masih memiliki senjata berbahaya. Umpan yang terukur bisa memanjakan lini depan yang diisi oleh Ole Romeny (Oxford United) dan Miliano Jonathans (Utrecht)- titisan Raja Depok.
Belum lagi nama-nama lainnya. Ragnar Oratmangoen, Joey Pelupessy (Lommel-Liga Belgia), Dean James (Go Ahead Eagles-Liga Belanda), Mauro Zijlstra (Volendam-Liga Belanda), Sandy Walsh, Shayne Pattynama (Buriram United), Eliano Reijnders serta pemain lokal Beckham Putra, Stefano Lilipaly, Yance dan Yakoc Sayuri.
Sekali lagi Timnas Indonesia memang underdog. Tapi, bisa menjadi 'Kuda Hitam' yang memberi ancaman. Bukan mustahil bisa mengejutkan Arab Saudi dan Irak.
Baca Juga: Anthony Garbelotto Berlabuh di Kesatria Bengawan Solo, Ini Kiprah Pelatih Terbaik IBL 2025
Kita mungkin bangsa yang tidak memiliki tradisi sepak bola seperti Brasil. Kita mungkin selalu dipandang sebelah mata. Kita sudah terlalu akrab dengan kata “berat,” sampai akhirnya tahu, berat itu bukan alasan tapi proses.
Artikel Terkait
Head to Head Indonesia Vs Arab Saudi: 21 Pemain Saudi Jebol Gawang Garuda, Majed Paling Moncer
Strategi Arab Saudi Melawan Timnas Indonesia: Siapkan Tiga Penyerang
Caretaker Ketua KONI Aceh Tegas, Soedarmo: Tidak Ada Urusan Menunda Musorprovlub
Menaturalisasi Pemain Tanpa Arahan: Banyak Potensi Risiko
Diletta Leotta Pakai Balutan Gaun Ketat, Penggemar Berseloroh Iseng: Karius Sangat Beruntung
Miskin Kemenangan, Jenson Button Sebut Tahun 2026 Jadi Penentu Lewis Hamilton di Ferrari