SportlinkNews - Indonesia Women’s League (IWL) membuka ruang bagi klub untuk memperkuat skuad dengan pemain asing. Dalam regulasi musim pertamanya, setiap klub diperbolehkan mengontrak maksimal empat pemain asing.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas kompetisi sekaligus memberikan pengalaman internasional kepada para pemain lokal.
Komite Eksekutif PSSI yang membawahi sepak bola putri, Vivin Cahyani, mengatakan kehadiran pemain asing diharapkan dapat meningkatkan level persaingan di kompetisi sepak bola putri Indonesia.
Baca Juga: Ngebet Berseragam Barcelona, Julian Alvarez Cari Jalan Keluar dari Atletico Madrid
Menurutnya, klub diberikan keleluasaan untuk menentukan pemain asing yang akan direkrut sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial masing-masing.
"Empat pemain asing itu termasuk pemain naturalisasi yang kami kategorikan sebagai marquee player," kata Vivin dalam jumpa pers di Kantor I.League, Jakarta, Selasa, 11 Agustus.
Pada musim perdana IWL, baru terdapat dua pemain diaspora yang bergabung, yakni Isabelle Nottet dan Estella Loupatty. Keduanya masuk dalam kategori marquee player yang diperkenalkan dalam regulasi kompetisi.
Baca Juga: Jelang Liga Primer 2026/27 Tottenham Hotspur Rilis Jersey Ketiga dengan Sentuhan Sensasi Ungu
Vivin menyadari bahwa mendatangkan pemain diaspora maupun pemain asing berkualitas membutuhkan proses. Terlebih, kompetisi sepak bola putri Indonesia masih dalam tahap membangun daya tarik di mata pemain dengan pengalaman internasional.
"Kalau yang season pertama ini baru ada dua pemain diaspora yang bergabung. Saya tahu butuh waktu untuk meyakinkan mereka mau join di liga putri kita," tuturnya.
Dengan demikian, masih tersedia ruang bagi klub untuk memanfaatkan kuota pemain asing yang telah disediakan.
Baca Juga: Napoli Sepakat Jual Romelu Lukaku ke Fenerbahce
Namun, IWL tidak menetapkan secara khusus bahwa pemain berlabel marquee player harus memiliki pengalaman bermain di Piala Dunia atau pernah memperkuat klub-klub Eropa.
Standar pemain tersebut lebih banyak dikembalikan kepada kemampuan klub dalam melakukan perekrutan.
Vivin menjelaskan, pemain dengan pengalaman di level tertinggi, termasuk pernah tampil di Piala Dunia, tentu memiliki nilai kontrak yang berbeda. Karena itu, klub harus menyesuaikan ambisi dengan kemampuan finansial.
Baca Juga: Bertahan di Real Madrid, Nasib Endrick Ditinjau Ulang Januari 2027
"Empat pemain asing itulah yang kita sebut sebagai marquee player. Mungkin klub yang mau subsidi, karena kalau misalnya dari subsidi yang diberikan dari PT Liga saya yakin mampu untuk membayar pemain asing," katanya.
"Kalau levelnya yang pernah main di Piala Dunia mungkin tarifnya lebih banyak, perlu klub dari liga yang ikut liga juga subsidi," ujar Vivin menambahkan.
Kondisi tersebut membuat perekrutan pemain asing di IWL menjadi tanggung jawab masing-masing klub. Liga memberikan ruang melalui kuota, sementara kualitas pemain yang didatangkan akan sangat bergantung pada strategi dan kemampuan finansial klub.
Baca Juga: Kembali ke Manchester United, Marcus Rashford Pakai Nomor 14
Kehadiran marquee player pun diharapkan bukan sekadar menjadi daya tarik kompetisi. Pemain dengan pengalaman internasional diharapkan bisa membawa standar permainan baru sekaligus menjadi sumber pembelajaran bagi pemain lokal.