“Saya ajak Dani ke Ambon karena dia teman duel. Dia punya bakat berkelahi dan tidak pernah takut siapapun," kata Heri ketika berbincang lewat telepon.
Heri yang sudah berlatih rutin di sasana tinju Kie Raha Boxing Camp punya Frice Soleman terpilih untuk bergabung di Pusdiklat tinju di bilangan Karang Panjang Ambon.
Penampilannya yang menjanjikan di kejuaraan Walikota Cup membuat tim seleksi kepincut. Namun negosiasi keberangkatan berlangsung alot.
Baca Juga: Berapa Banyak Latihan yang Harus Anda Lakukan untuk Mengembangkan Otot Anda?
“Saya ajukan syarat hanya mau berangkat kalo Dani ikut. Tim bingung dan bertanya siapa Dani. Saya bilang itu teman latihan saya,” ceritanya seperti dikutip dari laman referensimaluku.id.
Dani yang mendapat ajakan ke Ambon tak kalah bingungnya. Ia tak punya tekhnik bertinju. Namun jiwa mudanya yang selalu memberontak dan persaudaraan dengan Heri membuat dirinya nekad.
Siswa kelas tiga SMP Negeri 1 Ternate ini meminta Heri menghadap papanya untuk dapat restu.
“Papa hanya berpesan tak boleh putus sekolah," cerita Dani.
Heri yang usianya lebih tua jadi jaminan. Dani dan Heri pun melangkah ke Ambon dan bergabung bersama atlet dari berbagai daerah.
Baca Juga: Hansi Flick Bereaksi Terhadap Manchester United yang Kepincut Bintang Barcelona
Masa itu, Maluku Utara yang masih jadi kabupaten sudah lebih dulu mengirim dua atlet. Albert Papilaya untuk tinju dan seorang atlet perempuan cabang tolak peluru bernama Susan.
Ia pindah sekolah ke SMP 1 Ambon dan kelak melanjutkan sekolahnya di STM Kudamati. Di pemusatan latihan itu, Dani dan Heri bergabung dengan sejumlah petinju hebat semisal Nico Thomas, Apeles Letty, Max Auti, Beny Keliombar dan Jopie Akywen.
Mereka dilatih oleh duet pelatih Wiem Gomies dan Otje Tehupeiory. Wiem adalah petinju hebat yang meraih emas pada Kejuaraan Tinju Amatir Asia di Teheran Iran tahun 1971.
Baca Juga: Jake Paul Dijagokan Meng-KO Anthony Joshua, tapi Derek Chisora Sarankan Berpikir 2 Kali
Para petinju ini dipersiapkan untuk mengikuti Pekan Olahraga Nasional ke XI di Jakarta tahun 1986. Dani yang masih sangat muda dan minim pengalaman dijadikan “sparring partner”.
Ia sering “dihabisi” oleh para senior termasuk Albert Papilaya. Tapi Dani menolak menyerah. Tekadnya untuk jadi petinju hebat justru makin membara. Selain bersekolah, hari-harinya di Ambon dihabiskan di atas ring tinju.
Artikel Terkait
HBL Bukan Wanita Biasa, Kantongi 25 Suara Pengprov sebagai Calon Ketum Pertina
Pertina Gelar Munaslub, Pesan Ketum KONI: Tata Kelola Organisasi Pertina Harus Dibenahi
FIFA Peringatkan Sepak Bola Malaysia 18 Kali, Terbanyak di Asia
Selamat Tinggal Kapten Bruno Fernandes, Manchester United Lakukan Segala Cara untuk Menjualnya
Tomori Bahagia di Milan Setelah Penolakan Transfer Tottenham dan Juventus pada Januari
Hansi Flick Bereaksi Terhadap Manchester United yang Kepincut Bintang Barcelona