Tahun 1986, Dani terpilih mewakili Maluku mengikuti Kejuaraan Nasional Junior di Bandung. Bertanding di kelas Layang (48 kg), Dani melaju hingga partai final.
Ia gagal meraih emas setelah dikalahkan Jhon Maitimu. Setahun kemudian, Dani kembali ikut Kejurnas tinju di Mataram.
Ia sukses meraih medali emas. Saat Kejurnas tahun 1988 di Padang, Dani berpindah ke kelas terbang (51 kg). Ia kembali jadi juara dan mempersembahkan emas untuk Maluku. Dari tiga Kejurnas inilah, nama Hamdani Tomagola mulai dilirik dunia tinju nasional.
Maluku kembali memanggil Dani untuk berlaga dalam Pra PON Jakarta tahun 1989. Di partai final ajang Pra PON itu, Dani kalah dari petinju Jogja, Stevanus Herry.
Tapi Ia lolos ke PON Jakarta tahun 1989. Di partai final PON, Dani kembali kalah dan hanya meraih medali perak. Ia ditundukkan Herry Maitimu – petinju asal Maluku yang mewakili Jambi. Herry belakangan kita kenal sebagai raja kelas layang di Indonesia.
Gagal di PON tak membuat Dani patah arang. Ia ingat motivasi yang diucapkan idolanya, Sugar Ray Leonard – petinju Amerika yang jadi juara di lima kelas berbeda sepanjang karir profesionalnya.
Tinju adalah tantangan utama. Tidak ada yang bisa dibandingkan dengan menguji diri sendiri seperti yang Anda lakukan setiap kali memasuki ring.
Baca Juga: Sejak Kecil Doyan Berantem, La Paene Masara dari Debu Jalanan hingga Terbang ke Olimpiade
Bertinju bagi Dani tak sekadar olahraga. Ia bagian dari tantangan yang harus ditundukkan. Sebuah proses untuk membuktikan jika dirinya adalah yang terbaik.
Usai PON, Ia dipanggil ikut Pelatnas sebagai persiapan ke SEA Games Malaysia. Dani pun pindah sekolah ke STM Budi Utomo yang berada di kawasan Pasar Baru Jakarta.
Latihan makin intensif. Di Kuala Lumpur, anak Ternate ini melaju hingga babak semifinal. Ia gagal ke partai puncak SEA Games setelah kalah dari petinju Thailand.
Dani hanya meraih medali perunggu di kelas terbang. Ini medali pertama dalam karier tinjunya untuk Indonesia.
Baca Juga: Persib Kalahkan Western Sydney Wanderers, Modal Berharga Jelang Musim Kompetisi Baru
Setelah pesta olahraga Asia Tenggara itu, Dani tetap di Pelatnas. Tahun 1990, ia ikut kejuaraan tinju dunia di Moskow namun langkahnya terhenti di babak perempatfinal.