Han memang memberikan kejutan dengan menumbangkan unggulan pertama, Tomoka Miyazaki dari Jepang, di babak semifinal dengan skor 21-18, 21-8.
Baca Juga: Di Balik Kehidupan Mewah Neymar Bersama Model Wag, Jet Pribadi, dan Pesta Pantai
Hal ini membuat Putri menyadari bahwa Han adalah lawan yang tangguh dan sulit dikalahkan tanpa strategi yang tepat.
“Saat sudah di final, saya berusaha tidak terlalu memikirkan hasil, hanya ingin bermain bebas,” kata Putri.
Ia mengungkapkan bahwa saat dua final sebelumnya, meski sudah berusaha bermain tanpa beban, masih ada ketegangan yang memengaruhi performanya.
Baca Juga: Nunez dan Salah Redam Ambisi Aston Villa, Liverpool Semakin Kuat di Puncak Klasemen Premiere League
Kali ini, Putri merasa semua berjalan sesuai rencana.
“Saya sudah pernah menghadapi dia sebelumnya, dan tahu dia adalah tipe pemain yang kuat dan tidak mudah menyerah,” tambahnya.
Putri berhasil mengantisipasi permainan Han dengan membaca kelemahan di sisi forehand lawan, yang beberapa kali membuka peluang bagi Putri untuk meraih poin krusial.
Baca Juga: Inter Vs Napoli: Inzaghi Emoh Bicara Klasemen, tapi Tak Mau Kecolongan
Setelah pukulan terakhir Han yang keluar lapangan dinyatakan sah oleh hakim garis, Putri tak kuasa menahan tangis.
Pemain lulusan PB Exist ini langsung menghampiri asisten pelatih tunggal putri, Herli Djaenuddin, sambil menunduk penuh haru.
Reaksi tersebut menunjukkan bagaimana Putri seolah-olah telah melepaskan beban besar yang selama ini ia pikul.
Baca Juga: Menengok Kembali Semua Warna Predator 24 FT
“Setelah pertandingan berakhir, saya memang cukup emosional,” ujar Putri.