SportlinkNews - Atlet dan olahraga merupakan aktivitas fisik dan bentuk hiburan yang menyenangkan. Olahraga memiliki banyak tujuan, seperti meningkatkan kesehatan fisik dan mental, serta membantu kita membangun persahabatan dan keakraban.
Olahraga melampaui politik, negara, budaya, bahasa, gender, dan usia. Baik kita sebagai peserta langsung maupun penonton, setiap orang dapat merasakan luapan emosi karena menang dan keputusasaan karena kalah melalui kompetisi atletik.
Pujian terhadap tim dan atlet favorit kita juga dapat mendorong beberapa penggemar olahraga untuk terlibat dalam perilaku ekstrem.
Suasana yang penuh emosi di tempat-tempat olahraga dapat menciptakan massa kolektif yang membuat individu memperoleh rasa anonimitas yang membebaskan mereka dari batasan norma sosial yang biasa.
Baca Juga: Keren, Pemain Fulham Rilis Singel Musik Bersama Rapper Inggris
Dalam beberapa kasus, politik, nasionalisme, dan alkohol dapat menjadi katalisator yang memicu perkelahian antarsuku antara kelompok yang mencoba membangun dominasi atas lawan mereka.
Atletik mendahului negara-bangsa modern, tetapi negara-negara telah mencoba memanfaatkan energi dan gairah dalam olahraga untuk memajukan tujuan politik negara, terutama setelah kedatangan media massa modern.
Misalnya, Partai Nazi menjadikan Olimpiade Musim Panas Berlin 1936 sebagai panggung propaganda bagi ideologinya yang menyimpang.
Baca Juga: Arsenal Rugi Ditahan Crystal Palace 2-2, Liverpool Tunda Pesta Juara
Setelah Perang Dunia II, bekas Blok Poros disambut kembali sebagai negara demokrasi yang damai ketika Roma, Tokyo, dan Munich menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas masing-masing pada tahun 1960, 1964, dan 1972.
Namun, Olimpiade tidak dapat lepas dari politik Perang Dingin karena negara-negara Blok AS dan Soviet memandang Olimpiade sebagai forum untuk menunjukkan “keunggulan” sistem sosial dan politik masing-masing.
Selama Perang Dingin, ideologi sosialis sedikit menyimpang karena para pemimpin nasional memodifikasi pemikiran Marxis untuk memenuhi kebutuhan politik dalam negeri mereka.
Baca Juga: Atlet Olimpiade Dina Asher Smith Berbicara tentang Desain Koleksi
Dan karena sosialisme seharusnya ilmiah, para pemimpin seperti Lenin, Stalin, Mao, Kim, dan lainnya telah melakukan tugas mereka untuk menyumbangkan “ide dan konsep baru” untuk membangun karya para pendahulu mereka.
Artikel Terkait
Pernyataan Keras Pelatih Malaysia, Kirim Surat Tantangan Kepada Vietnam Sebelum Pertandingan Krusial
Atlet Olimpiade Dina Asher Smith Berbicara tentang Desain Koleksi
Dihajar Milan 3-0, Simone Inzaghi Sebut Inter Kelelahan Fisik dan Mental
Juventus Harus Tumbuh Menjadi Jahat Usai Dipermak Parma
Arsenal Rugi Ditahan Crystal Palace 2-2, Liverpool Tunda Pesta Juara