SportlinkNews - Bagi banyak orang, bola basket lebih dari sekadar permainan. Itu adalah sebuah agama. Ada kisah kemenangan dan kisah kejatuhan yang signifikan.
Ada sosok dewa dan dewa yang telah menciptakan dan membentuk permainan ini hingga seperti sekarang ini. Namun, seperti halnya agama, khususnya Kristen, ada peristiwa apokaliptik.
Dalam serial Four Horsemen of the Apocalypse karya Pfeiffer, ia dapat menggambarkan apa yang mungkin dilihat seseorang jika dunia benar-benar menemui ajalnya.
Baca Juga: Olimpiade Paris 2024 Siapkan 15.000 Makanan untuk Atlet Setiap Harinya
Paul Pfeiffer adalah seniman kontemporer yang berkarya dalam media fotografi digital, video, dan instalasi untuk membahas kesadaran manusia dan peran media massa dan masyarakat dalam membentuknya.
Awalnya lahir di Hawaii dan dibesarkan di Filipina, Paul Pfeiffer menyatakan bahwa olahraga sama sekali asing baginya saat ia dibesarkan oleh misionaris agama dan musisi yang memiliki sedikit minat dalam olahraga.
Namun, setelah pindah dari Filipina ke New York pada awal tahun 1990-an, minat dan keingintahuan Paul Pfeiffer terhadap olahraga tumbuh ketika ia diperkenalkan dengan dunia bola basket dan tinju melalui teman-temannya yang membawanya ke acara olahraga profesional dan amatir.
Baca Juga: Erick Thohir: Jalan Timnas Menuju Olimpiade Paris 2024 Masih Terbuka
Saat dia menghadiri pertandingan dan acara olahraga tertentu, Paul Pfeiffer menyatakan bahwa dia menjadi sama sekali tidak tertarik dengan apa yang terjadi di atas ring atau di lapangan.
Sebaliknya, ia menjadi tertarik dengan pengamatan masyarakat terhadap olahraga tersebut dan ikon (pemain) yang sepertinya menarik perhatian setiap penonton.
Sejak saat itu, ia mulai menciptakan karya seni yang diakui secara kritis dimulai dengan seri Four Horsemen of the Apocalypse.
Baca Juga: Sosok Marteen Paes, Kiper Belanda yang Resmi Naturalisasi WNI
Four Horsemen of the Apocalypse adalah serial dari awal tahun 2000-an hingga 2018 di mana seniman Paul Pfeiffer secara digital menghapus detail spesifik dari foto untuk menciptakan visual pemain bola basket profesional yang menakjubkan namun menakutkan.
Awalnya, serial Four Horsemen of the Apocalypse dimulai dengan Paul Pfeiffer ‘menghapus’ Marilyn Monroe dari kumpulan lima gambar diam dan hanya menyisakan latar belakang foto di sana untuk dilihat penonton.
Artikel Terkait
Shin Tae-yong Bantah Teken Kontrak Hingga 2027
Mendarat di Miami, Formula 1 Bakal Sajikan Balapan Sengit
Putra Francis Ngannou Meninggal Secara Tragis
Olimpiade Paris 2024 Siapkan 15.000 Makanan untuk Atlet Setiap Harinya
Resmi, Megawati Perpanjang Kontrak dengan Red Sparks, Gajinya Rp 2,4 Miliar