SportlinkNews - Formula 1 (F1) tak lagi sekadar ajang adu kecepatan di lintasan. Kini, setiap Grand Prix juga menjadi panggung mode, di mana estetika beroktan tinggi balapan bertemu dengan dunia fashion kelas atas.
Balapan jet darat telah bertransformasi menjadi fenomena gaya hidup global dengan menggandeng generasi muda, selebritas, hingga rumah mode mewah untuk menciptakan momen budaya pop yang tak bisa diabaikan.
Di tengah panasnya Grand Prix Saudi, tidak hanya suhu dan persaingan pembalap yang membara. Sorotan kamera kini juga tertuju pada gaya para tamunya, baik di paddock maupun saat menaiki podium.
Jaket kulit bergaya agresif, jumpsuit bermerek, kacamata oversize, hingga rantai logam kini menjadi bagian dari citra baru para pembalap.
Baca Juga: Sedikit Polesan Lagi, GOR Indoor Manahan Siap Jadi Tuan Rumah IBL
Tren ini, yang dikenal dengan sebutan motorcore atau speedwear, telah merambah jalanan Tokyo, New York, hingga Paris. Di Paris Fashion Week 2025, Vaquera membuka runway dengan kaus bergaya racing seperti sponsor mobil balap.
Kemudian, Dior menghadirkan jaket moto-check yang dipadukan dengan celana olahraga elegan, sedangkan Jil Sander menunjukkan gaya pembalap dalam balutan minimalisme yang canggih.
Tak dapat disangkal, revolusi di lintasan ini banyak dipengaruhi oleh Lewis Hamilton. Juara dunia tujuh kali itu tak hanya mendominasi lintasan, tapi juga panggung mode global.
Dari kolaborasi TOMMYxLEWIS hingga koleksi kapsul futuristik +44 x Sorayama, Hamilton memelopori narasi baru pembalap sebagai ikon gaya. Vogue bahkan menyebutnya sebagai sosok yang telah "mendefinisikan ulang citra pembalap F1".
Baca Juga: Adidas x Atmos Rilis Sneaker Megaride Edisi 25 Tahun, Ini Detailnya
Gayanya yang berani, dari blus sheer hingga setelan pastel telah menjadi simbol bahwa kecepatan dan ekspresi diri bisa berjalan beriringan. Hamilton membuka jalan bagi generasi baru pembalap untuk tampil tidak hanya cepat, tapi juga modis.
Sirkuit, Selebriti, dan Sorotan Global
Tak heran jika kini paddock F1 dipenuhi selebritas papan atas. Dari Rihanna hingga Zendaya, dari Dua Lipa hingga Lisa dan Rose, dua personil BLACKPINK, kehadiran mereka menjadikan Grand Prix sebagai ajang fashion statement.
Saat Lisa tampil memukau di Las Vegas F1 Grand Prix mewakili Celine, atau Rosé bersinar di Singapura bersama Tiffany & Co., F1 menjadi magnet tak hanya untuk fans otomotif, tapi juga komunitas fashion dan K-pop global.
Tim-tim balap pun mulai serius menapaki dunia fashion. Ferrari, di bawah arahan Rocco Iannone, telah tujuh kali tampil di Milan Fashion Week.
Baca Juga: Oklahoma City Thunder Pastikan Tempat di Final NBA, Tim Pertama yang Lolos
Bersama Puma, mereka meluncurkan jaket neo-Chinese dan sneakers Speedcat yang populer di kalangan Gen Z.
Porsche dan BMW menjalin kolaborasi berulang dengan label streetwear seperti Aimé Leon Dore dan Kith, membawa semangat balap ke jalanan kota.
Namun, ini bukan hanya soal estetika. Banyak merek otomotif menghadapi tekanan finansial dan fashion menjadi jalan baru untuk menyentuh konsumen muda.
Memperluas basis penggemar, dan meningkatkan relevansi budaya. Namun, belum semua merek mampu menyeimbangkan branding dan kredibilitas artistik di dunia fashion.
Baca Juga: Singapore Open 2025: Harapan Indonesia Tinggal di Fajar/Rian dan Jafar/Felisha
Sehingga kini F1 pun tak sekedar balapan motor saja, tetapi lebih dari olahraga. Kehadiran LVMH sebagai sponsor global baru Formula 1 mempertegas transformasi ini.
Dimulai dari Grand Prix Melbourne 2025, F1 menghadirkan pengalaman perhotelan eksklusif dan aktivasi fashion di setiap balapan.
Louis Vuitton yang sudah lama terlibat dengan F1, kini akan semakin dalam menggandeng Moët Hennessy dan TAG Heuer dalam strategi gaya hidup menyeluruh.
Formula 1 hari ini bukan hanya tentang siapa tercepat di lintasan, tapi juga siapa yang paling memikat di mata publik.
Di panggung global yang mencampurkan kecepatan, kemewahan, dan ekspresi diri, F1 telah melesat menjadi ikon gaya hidup abad ke-21.