Tanpa bergerak. Hanya menyimak. Tangan di dada. Mata berkaca. Mapas mereka jadi satu. Dari kejauhan kamera menangkap momen itu lalu mengirim ke seluruh dunia.
Orang-orang dari Italia, Prancis, Kanada, bahkan negara-negara yang tak tahu Indonesia mendadak terdiam.
Seorang penonton dari Belgia menulis dilaman media sosinya: Saya sudah banyak menonton pertandingan besar. Saya tahu rasanya menang. Saya tahu rasanya kalah. Tapi, malam ini saya tahu rasanya tersentuh. Karena apa yang saya saksikan bukan hanya selebrasi. Bukan hanya perayaaan, tapi momen spiritual. Momen dimana sepak bola bukan soal taktik atau strategi.
Baca Juga: Studi: Kafein Memangkas Waktu Lari Sprint 100 Meter hingga 0,1 Detik
Tapi, soal jiwa soal cinta soal tanah air yang dicintai tanpa sarat. Seorang wanita Kanada menulis; Saya hanya lewat di saluran televisi. Tidak tahu siapa yang main. Tidak tahu siapa yang menang.
Tapi setelah mendengarkan lagu itu saya menangis. Tanpa tahu kenapa? Mungkin karena saya lupa bagaimana mencintai sesuatu dengan penuh hati.
Seorang dari Italia mengungkapkan suara hatinya. Saya sudah menonton Serie A, Final Liga Champions. Tapi tidak ada yang menyentuh saya seperti yang dilakukan di Indonesia.
Seorang Prancis mengatakan, ini bukan pertandingan. Ini seni, ini cinta, ini pengabdian. Orang Belgia bilang saya benar-benar tidak siap dengan dampak emosional seperti ini.
Baca Juga: Berpisah dengan Wolves, Bek Muda Timnas Indonesia Ini Punya Modal Bermain di Eropa
Ketika mereka membentuk lingkaran, saya kira mereka akan selebrasi biasa. Tapi ketika musik dimulai dan mereka bernyanyi bersama, saya terpaku.
Melodinya. Keharnonisan. Ekspresi tulus di wajah mereka seperti spriritual. Bukan sekadar lagu tapi pernyataan cinta kepada tanah air.
Sebagai orang Eropa saya sudah melihat banyak fans yang penuh semangat. Bukan kemarahan, bukan kebanggaan. Tapi pengabdian sejati.
Timnas Indonesia bukan hanya bermain bagus. Mereka menyentuh hati dunia. Mereka mengingatkan kita bahwa olahraga bukan hanya menang-kalah atau peringkat.
Ini soal manusia. Soal identitas. Soal cinta yang dibangun dari rasa yang dimiliki. Ketika saya melihat momen lagu kebangsaan itu para pemain saling memegang tangan dan bernyanyi seolah untuk langit. Saya tak bisa menahan air mata.