Hanya sedikit klub di luar strata elit yang berhasil mendapatkan kemitraan yang benar-benar mengguncang algoritma — Genoa adalah pengecualiannya.
Dari The Undertaker hingga Rita Ora, dari Squid Game hingga Red Bull — kampanye mereka tidak hanya membuat kegaduhan; mereka mendominasi linimasa.
Ambil contoh kolaborasi Squid Game dengan Netflix. Pada tanggal 21 Desember 2024, menjelang peluncuran global musim kedua, para pemain Genoa turun ke lapangan dengan mengenakan pakaian olahraga hijau yang menjadi ciri khas acara tersebut.
Foto tim? Diapit oleh para penjaga bersetelan merah muda dari serial tersebut. Itu bukan sekadar pemasaran — itu adalah momen.
Kemudian muncul kolaborasi Red Bull, di mana pesepeda gunung fenomenal Kriss Kyle merobohkan tangga stadion dalam aksi prapertandingan yang mencengangkan untuk meramaikan acara Cerro Abajo Red Bull di kota tersebut.
Sekali lagi, itu bukan pemasaran sepak bola — itu adalah aksi teater olahraga dalam balutan sepak bola.
Baca Juga: Genoa CFC Luncurkan Jersey Edisi Khusus Bertema Seni Lele Luzzati
Pada momen-momen ini, Genoa menjadi lebih dari sekadar tim Serie A. Mereka menjadi wadah budaya, tontonan, dan cerita digital.
Dukungan dari selebritas bukanlah hal baru, tetapi Genoa mengubahnya menjadi aktivasi yang berlapis dan disengaja.
Rita Ora dalam seragam ulang tahun ke-130? The Undertaker yang mengenakan pakaian serba hitam dari ujung kepala hingga ujung kaki agar selaras dengan kampanye "Sisi Gelap Genoa" mereka? Ini bukan sekadar "kolaborasi keren" — ini adalah narasi estetika yang dibangun di sekitar ikon pop.