Namun, sudah pasti, berdasarkan bukti-bukti literatur dan ikonografis yang kaya dari semua peradaban kuno, perburuan akan segera menjadi tujuan akhir—setidaknya bagi keluarga kerajaan dan bangsawan.
Bukti arkeologi juga menunjukkan bahwa permainan bola adalah hal yang umum di kalangan masyarakat kuno, berbeda dengan masyarakat Cina dan Aztec.
Jika permainan bola lebih merupakan kontes dan bukan pertunjukan ritual non-kompetitif, seperti pertandingan sepak bola Jepang kemari, maka permainan bola adalah olahraga dalam pengertian yang paling ketat.
Bahwa tidak dapat diasumsikan begitu saja bahwa itu adalah sebuah kontes, hal ini terlihat jelas dari bukti-bukti yang disajikan oleh zaman Yunani dan Romawi kuno, yang menunjukkan bahwa permainan bola sebagian besar merupakan hiburan yang menyenangkan seperti yang direkomendasikan untuk kesehatan oleh dokter Yunani Galen pada abad ke-2 Masehi.
Olahraga tradisional Afrika
Penaklukan Islam di Afrika Utara pada abad ke-7 tidak mungkin mengubah olahraga tradisional di wilayah tersebut secara radikal.
Selama perang dilakukan dengan busur dan anak panah, perlombaan memanah terus berfungsi sebagai demonstrasi kehebatan.
Nabi Muhammad secara khusus mengizinkan pacuan kuda, dan geografi menetapkan bahwa manusia membalap unta dan juga kuda. Para pemburu juga bersenang-senang dengan menunggang kuda.
Variasi budaya di kalangan masyarakat kulit hitam Afrika jauh lebih besar dibandingkan masyarakat Arab di pesisir utara. Permainan bola jarang terjadi, tetapi gulat ada di mana-mana.
Bentuk dan fungsi gulat berbeda-beda dari satu suku ke suku yang lain. Bagi masyarakat Nuba di Sudan selatan, upacara ritual, dimana tubuh laki-laki dihias secara rumit dan dilatih dengan cermat, merupakan sumber utama status dan prestise laki-laki.
Olahraga tradisional Asia
Seperti halnya peradaban yang sangat maju di mana mereka menjadi bagiannya, olahraga tradisional Asia sangatlah kuno dan beragam. Kompetisi tidak pernah sesederhana kelihatannya.
Dari Timur Tengah Islam hingga anak benua India hingga Tiongkok dan Jepang, pegulat—sebagian besar, namun tidak hanya laki-laki—mewujudkan dan menerapkan nilai-nilai budaya mereka. Kekuatan pegulat selalu lebih dari sekedar pernyataan pribadi.
Tempat olah raga yang khas dalam konteks keagamaan adalah tontonan 50 orang Turki kekar yang bergulat di Istanbul pada tahun 1582 untuk merayakan penyunatan putra Murad III.
Ketika pegulat India bergabung dengan akhara (gimnasium), mereka berkomitmen untuk mencari kehidupan suci. Sebagai umat Hindu yang taat, mereka melafalkan mantra sambil melakukan gerakan menekuk lutut dan push-up.
Penekanan pada pendekatan terakhir ini lebih bersifat militer dibandingkan keagamaan, instrumental dibandingkan ekspresif.