Pengaruh ini juga terlihat pada pesepak bola wanita, seperti Rodman, yang memilih kepang merah muda untuk mengekspresikan dirinya di lapangan.
Baca Juga: Tenis Meja Tampil, Pembuktian De Jure dan de Facto Tak Ada Lagi Dualisme PTMSI
Selain itu, kehadiran merek kecantikan seperti Fenty Beauty, yang didirikan oleh Rihanna pada tahun 2017, turut memberikan kontribusi besar dalam mendefinisikan standar kecantikan baru.
Fenty Beauty memperkenalkan inklusivitas melalui berbagai pilihan warna alas bedak, yang membuat wanita dari segala warna kulit merasa diakui.
Hal ini menciptakan efek domino di industri kecantikan, mendorong merek lain untuk memperluas jangkauan produk mereka dan mendukung ekspresi individu, termasuk para atlet.
Baca Juga: Kisah Perjalanan Panjang Canka Lokananta Bangkitkan Muaythai Aceh
Pandemi COVID-19 juga memiliki peran dalam mengubah persepsi kecantikan.
Di tengah isolasi sosial, banyak orang beralih ke perawatan diri dan ekspresi individu melalui media sosial, seperti TikTok dan Instagram.
Konten bertema #selfcare dan #GRWM (Get Ready With Me) mendorong popularitas perawatan kulit dan kecantikan, yang kemudian tercermin dalam penampilan para atlet di Olimpiade.
Baca Juga: Keindahan Toba Jadi Penyemangat Syelhan Raih Emas di PON Aceh-Sumut
Saat ini, pesepak bola wanita seperti Megan Rapinoe dan Mary Fowler telah melampaui status sebagai atlet, menjelma menjadi ikon budaya yang mempengaruhi tren kecantikan dan mode.
Rapinoe, dengan rambut ungunya, bekerja sama dengan rumah mode mewah Loewe pada tahun 2021, sementara Fowler menjadi duta merek kecantikan L'Oreal.
Kemitraan ini menunjukkan bahwa keindahan dan olahraga semakin terhubung, menciptakan peluang bagi atlet wanita untuk menjadi representasi kecantikan modern.
Baca Juga: Arsenal dan Liverpool Ingin Tampung Pemain Real Madrid Ini
Melalui keterlibatan aktif dalam tren kecantikan, para pesepak bola wanita telah berhasil meruntuhkan stereotip bahwa penampilan dan prestasi atletik tidak bisa berjalan beriringan.